Najmulhayah's Blog

buat blog1

Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta?

Apakah cinta memang identik dengan musibah dan malapetaka?

Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta?

Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata?

Sepenggal sajak yang saya baca dari buku mba Asma Nadia ini, sungguh menggelitik fikiran saya, “benar juga” batin saya dalam hati. Saya pun teringat dengan sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Tangga berjudul “Cinta Tak Mungkin Berhenti”, bait pertama dari lagu tersebut, memiliki makna yang pesis sama dengan kalimat di atas..

Tak ada kisah tentang cinta, yang bisa terhindar, dari air mata…”

Memang, tak bisa dipungkiri dan saya yakin sekali, hampir semua orang pernah meneteskan air mata karena alasan cinta (air mata kesedihan tentunya, air mata bahagia beda lagi ceritanya J ), baik laki-laki maupun perempuan, baik seorang selebritis papan atas dengan wajah dan rambutnya yang menawan, maupun muslimah yang bahkan selalu memakai cadar. Saya yakin semuanya pernah meneteskan air mata karena alasan cinta, walaupun hanya sekali dalam hidupnya.

Saya tertegun membaca salah satu kisah cinta yang tertulis dalam buku “La Tahzan for Broken Hearted Muslimah” karangannya mba Asma Nadia, kisah itu sangat mirip sekali dengan 3 kisah yang juga pernah saya dengar ceritanya dari beberapa teman saya, kisah yang sungguh membuat saya miris mendengarnya.

Berkisah tentang seorang akhwat dan ikhwan yang saling tertarik dan ingin menghalalkan hubungannya dengan jenjang pernikahan, namun 3 kisah itu memiliki permasalahan yang sama (setidaknya menurut saya), mereka menjalani proses ta’aruf yang sedikit lebih lama dari biasanya…

Saat akhwat pertama mengetahui bahwa ikhwan yang ternyata juga diam-diam ia kagumi akan menikahinya, ia begitu bahagia, perkenalan demi perkenalan pun terjadi. Bahkan sudah melibatkan orang tua. Walaupun keduanya masih sama-sama kuliah, namun keduanya mantap untuk meresmikan hubungan mereka dengan ikatan suci itu.

Keadaan yang sama-sama belum mapan pun bukan menjadi halangan bagi kesungguhan niat mereka. Mereka ingin Allah meridhoi hubungan mereka.

Namun ternyata, kesungguhan itu belum sepenuhnya sekuat karang, ia hancur karena kikisan air laut. Ketika akhirnya hati dan fikiran pun berubah dengan seketika. Karena tugas kuliah, mereka  diharuskan berpisah sekitar 1 bulan lamanya. Proses ta’aruf pun tertunda. Dalam waktu tersebut, ternyata sang ikhwan bertemu dengan akhwat lain yang juga sangat memikat hatinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah, seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya.

Akhwat pertama ini hanya bisa terbingung-bingung karena proses ta’arufnya yang harus berhenti secara sepihak. Sedih sudah pasti.. Karena impian yang sudah ia bangun harus hancur dengan seketika.

Begitu pun dengan kisah yang kedua. Ketika sang akhwat dan sang ikhwan tidak bisa menghindari rasa cinta yang tumbuh diantara mereka yang terlahir secara prematur, membuat mereka diliputi kegundahan dan kebingungan. Mereka yang memiliki amanah di tempat yang sama, dengan interaksi yang cukup intens, membuat mereka akhirnya menyadari bahwa keduanya saling mengagumi. Keinginan untuk mewujudkan sebuah pernikahan dan menjadikan hubungan itu menjadi halal pun terus memenuhi pikiran mereka.

Namun berbeda dengan kasus yang pertama, keinginan mereka terbentur oleh satu kata yaitu “Kesiapan”. Sang ikhwan belum merasa cukup siap dan mapan untuk menghidupi istri dan keluarganya, ia ingin bisa menikah ketika memang benar2 sudah bisa berpenghasilan sendiri, karena memang keduanya juga masih kuliah.

Akhirnya keinginan itu pun terpendam, karena memang tidak ada istilah “menunggu” dalam islam, akhirnya mereka berpisah secara baik-baik. Mereka mengembalikan semuanya pada Allah, kalau jodoh ga akan lari kemana.

Beberapa tahun pun berlalu, sudah waktu yang tepat bagi sang akhwat untuk menikah, sang ikhwan pun akhirnya selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Sang akhwat yang ternyata belum bisa melupakan kisah mereka sebelumnya, memberanikan diri mendatangi sang ikhwan, bertanya apakah sang ikhwan sudah siap mewujudkan harapan mereka beberapa tahun silam, sang akhwat meyakinkan sang ikhwan bahwa dirinya siap menerima ikhwan itu apa adanya walau penghasilannya masih pas2an.

Sang ikhwan menyatakan bahwa dirinya belum siap, dan ia masih membutuhkan waktu yang lama karena ia ingin menunggu kakak perempuannya yang belum menikah, sang ikhwan pun menawarkan apakah sang akhwat mau ia kenalkan dengan temannya yang sudah siap menikah. Sang akhwat pun akhirnya menerima keputusan sang ikhwan dengan ikhlas, dan mulai membuka hati untuk orang lain. Karena memang keluarganya sangat berharap ia segera menikah. Walau dalam hatinya sang akhwat sangat sedih, karena sang ikhwan malah mau menjodohkannya dengan temannya, sang akhwat bertanya-tanya apa maksud dari semua itu.

Akhirnya beberapa lama kemudian, sang akhwat menyadari maksud dari kata2 itu, ternyata sang ikhwan bukannya belum siap, tapi memang perasaannya pada sang akhwat sudah berubah. Sang akhwat hanya bisa menangis tergugu ketika mengetahui bahwa sebentar lagi sang ikhwan akan menikah dengan orang lain.

 

Kisah yang ketiga tentang seorang akhwat dan ikhwan yang juga memendam perasaan yang sama. Perasaan yang hanya pernah terungkapkan 1 kali di antara keduanya, hanya 1 kali, itu pun ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Ikhwan kecil dan akhwat kecil ini sama-sama sekolah di sekolah dasar islam, sehingga diajarkan mengenai pergaulan dalam islam. Ternyata ajaran itu melekat kuat dalam memori dan hati mereka. Ketika dengan polosnya sang ikhwan kecil berkata kepada sang akhwat : 

“Aku sebenernya suka sama kamu, kamu baik banget, lembut, tapi aku bingung, dalam islam kan ga boleh pacaran..”

“Iya, aku juga suka sama kamu. Tapi sekarang kita berteman aja yah, kalau kita pacaran, nanti Allah marah sama kita..” jawab sang akhwat

“Iya, kamu bener.. nanti kalau memang jodoh pasti kita ketemu lagi kan ya..” balas sang ikhwan..

“Iya.. insyaAllah..” jawab sang akhwat.

Percakapan polos anak kelas 5 sekolah dasar itu berakhir sampai disitu. Selanjutnya mereka benar2 memegang ucapan mereka, mereka bergaul layaknya seorang teman. Pun ketika sang ikhwan melanjutkan SMP nya di pesantren dan sang akhwat melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri, dan keduanya masuk ke SMU Negeri, kisah itu tak pernah terungkap lagi. Bahkan interaksipun tidak ada sama sekali, karena keduanya bersekolah di tempat yang berbeda.

Namun siapa yang menyangka memori masa kecil itu terus melekat kuat dihati keduanya. Hingga masuk ke bangku kuliah, mereka masih memiliki perasaan yang sama, harapan yang sama. Tanpa interaksi, tanpa bertemu, tanpa komunikasi selama bertahun-tahun, ternyata keduanya masih menyimpan kenangan itu dalam hati mereka, dan masih memiliki niat yang kuat untuk mewujudkan cita-cita masa kecil itu. Lucu memang, saya pun terenyuh mendengarnya, kisah yang sungguh langka buat saya.

Namun ternyata rahasia itu lahir secara prematur, sang ikhwan akhirnya mengetahui perasaan sang akhwat yang tdk berubah dari adik sang akhwat yang mendukung sang ikhwan agar segera menikahi kakaknya apabila sang ikhwan masih memiliki perasaan yang sama. Sang ikhwan pun dihadapi oleh 2 pilihan sulit, di satu sisi ia bahagia karena mengetauhi akhwat yang diharapkannya memiliki harapan yang sama, tapi di sisi lain, sang ikhwan merasa belum siap saat itu, karena belum lulus kuliah dan bekerja.

Namun sang ikhwan melakukan suatu kesalahan (menurut saya..), ia mengatakan kepada sang adik, bahwa memang perasaannya ke kakaknya belum berubah, namun ia belum siap menikah, jadi blm bisa menjanjikan apa-apa, ia juga berpesan agar membiarkan semuanya mengalir sesuai takdir Allah kedepannya.

Mendengar jawaban sang ikhwan, tentu sang akhwat juga bahagia bukan kepalang, menyadari bahwa ternyata sang ikhwan juga masih memiliki harapan yang sama. Ia akhirnya berusaha setia untuk menunggu sang ikhwan siap, tanpa memberi tahu apapun pada sang ikhwan.  

Namun ditengah penantiannya, ia dikagetkan oleh surat dari sang ikhwan yang memintanya untuk melupakan sang ikhwan, dan sang ikhwan mengatakan bahwa harapannya terhadap sang akhwat sudah berubah. Kejujuran sang ikhwan memang patut di acungi jempol, memberikan kepastian sehingga sang akhwat tidak terus menanti sesuatu yang tidak pasti.

Tapi caranya sungguh menyayat hati, bagi sang akhwat yang sudah menanti bertahun-tahun lamanya, apalagi di akhir diketahui bahwa alasan sebenarnya adalah karena sang ikhwan terpikat oleh perempuan lain.

 

Kisah yang terakhir, saya baca dari buku mba Asma Nadia, sejujurnya kisah ini yang mengingatkan saya pada 3 kisah  diatas, dan akhirnya membuat saya berfikir, ternyata kisah2 seperti itu bukanlah kisah yang langka, ternyata jatuh cinta itu memang milik siapa saja, dan patah hati pun milik siapa saja. Dulu saya fikir, mana ada akhwat yang menangis karena cinta yang terjadi sebelum pernikahannya, ternyata banyak. Dulu saya fikir, ikhwan itu setia, hanya mengungkapkan perasaannya kepada wanita yang benar-benar akan dinikahinya, ternyata ga semuanya seperti itu, ikhwan dan akhwat juga manusia..

Kisah yang terakhir menceritakan tentang seorang akhwat yang sudah siap menikah, kemudian ia ditawarkan untuk berta’aruf dengan seorang laki-laki yang juga sudah siap menikah, mapan, dan kebetulan juga menanyakan tentang dirinya. Akhirnya bertemulah sang akhwat dengan sang ikhwan, proses ta’aruf pun di mulai.

Pertemuan demi pertemuan pun terjadi. Awalnya mereka bertemu dengan ditemani oleh perantara, hingga akhirnya pertemuan itu berlangsung hanya berdua saja. Sebenarnya sang akhwat merasa tidak enak, namun karena sudah diliputi perasaan cinta, ia membiarkan keinginan sang ikhwan tersebut.

Namun, setelah berkali-kali pertemuan di adakan ditambah sms yang senantiasa datang, sang akhwat merasa kok rasanya ta’aruf ini tidak ada ujungnya. Hingga akhirnya sang akhwat memberanikan diri menetapkan deadline ta’aruf. Namun jawaban ikhwan tersebut sungguh di luar dugaan :

“Biarkan semua berjalan seperti air yang mengalir,ukh..”

Sang akhwat menjadi terbingung-bingung. Apa maksudnya? Kalau tidak ada deadline, mau sampai kapan ta’aruf ini berlangsung? Akhirnya sang akhwat berterus terang pada sang ikhwan :

“Saya takut hati saya menjadi kotor..” dan jawaban sang ikhwan pun kembali mengagetkan sang akhwat..:

“Ya jangan kau kotori hatimu dong..”

Sang akhwat benar-benar bingung, sebenernya ikhwan ini serius atau tidak, namun karena sudah terlanjur cinta, maka sang akhwat pun mengikuti permainan sang ikhwan. Sang akhwat berfikir, bahwa tidak mungkin sang ikhwan tidak serius, dia kan seorang ikhwan, dia juga aktivis dakwah. Dia pasti juga paham bagaimana ta’aruf yang baik.

Karena seminggu berlalu tanpa progress, akhirnya sang akhwat bercerita pada guru ngajinya, dan akhirnya guru ngajinya mau mengontak ikhwan tersebut untuk melanjutkan proses ta’aruf mereka. Namun malamnya, datang sms dari ikhwan tersebut :

“Kamu bilang apa ke guru ngajimu? Semalam dia sms saya. Saya nggak tau harus jawab apa..”

Spontan sang akhwat melongo untuk beberapa menit. “Tidak tahu harus jawab apa? Bagaimana sih dia ini? Sebenernya dia serius atau tidak ingin ta’aruf dengan saya” tanya sang akhwat dalam hati.

Sang akhwat menjadi semakin ragu,hatinya mengatakan ini tidak serius. Seharusnya dari awal ia memang mengakhiri proses ta’aruf tersebut. Namun lagi-lagi cinta membutakan hati sang akhwat. Lagi-lagi ia terperdaya oleh simbol. Bahwa calonnya tersebut adalah seorang ikhwan. Tidak mungkin dia main-main.

Akhirnya sang akhwat bertanya pada teman yang dulu memperkenalkannya kepada ikhwan tersebut, untuk menanyakan baik-baik kepada ikhwan itu sebenernya apa yang dia inginkan..

Lama sms itu tak berbalas. Sementara hubungan dengan ikhwan tersebut masih sama saja. Sms2 dan pertemuan2 yang tetap tak membuahkan keputusan, hanya menambahkan rasa cinta dan berbunga pada hati sang akhwat.

Hingga suatu hari, sang akhwat mendapat sms dari sang ikhwan. Sms yang sangat panjang, namun yang diingat oleh sang akhwat hanya sebaris kalimat :

“Mengingat ketidaksiapan saya menikah, mungkin lebih baik kita bersahabat saja ya ukh..”

Sang ikhwan membeberkan alasan mengapa dia blm siap menikah, tapi nggak ada yang berhasil diingat oleh sang akhwat saking shock nya membaca sms tersebut.

Beberapa pertanyaan muncul di benak sang akhwat :

  1. Kalau dia memang belum siap menikah, kenapa dia menerima tawaran ta’aruf dari teman saya yang juga temannya?
  2. Kalau dia tidak sreg dengan saya, kenapa dia masih meneruskan proses taaruf sampai sebulan lamanya yang membuat perasaan saya semakin dalam padanya?
  3. Kalau dia memang tidak serius dengan saya, kenapa dia mengirimi saya kata2 manis yg membuat harapan saya semakin melambung?
  4. Apa maksud dia dibalik semua itu?

 

Sang akhwat akhirnya bertanya tentang masalah tersebut ke temannya yang juga teman ikhwan itu, ternyata temannya memang tau jawabannya:

“Dia memutuskan ta’aruf itu bukan karena belum siap, tapi karena dia juga sedang ta’aruf dengan akhwat lain..”

 

Betapa kagetnya sang akhwat mendapat kabar tersebut, Sang akhwat merasa sangat marah, harga dirinya terasa diinjak-injak. “Disini saya menyiapkan hati untuknya seorang, tapi disana hatinya bukan hanya untuk saya, melainkan untuk memilih: saya atau akhwat itu..” pikir sang akhwat dalam hati

 

Hati sang akhwat semakin sakit mendengar jawaban sang ikhwan atas pertanyaannya tentang semua kejadian ini :

“Kamu telah salah mengartikan arti ta’aruf yang saya maksudkan..” ucap sang ikhwan.

Sang akhwat hanya bisa memegangi dadanya yang semakin sakit. “Memang apa arti ta’aruf menurut dia? Hanya kenalan saja” tanya sang akhwat dalam hati.

Mungkin kalau sejak awal hubungan mereka hanya teman, tidak akan sesakit ini. Tapi hubungan mereka sekarang adalah untuk ta’aruf, ta’aruf yang bukan hanya berkenalan, tapi ta’aruf sebagai proses menuju pernikahan. Sang akhwat masih teringat jelas perkataan temannya ketika menawarkan ikhwan tersebut kepadanya :

“ Ada yang nanyain kamu lho. Ikhwan. Sudah bekerja, sudah siap nikah. Malah dia sudah pengen banget nikah dan lagi cari istri. Dia mau ta’aruf sama kamu. Kamu mau nggak?

Ta’aruf untuk menikah, itu yang dipahami sang akhwat, entah apa yang sebenernya ada di benak sang ikhwan.

Akhirnya 2 bulan kemudian, sang akhwat mendengar bahwa sang ikhwan akan menikah dengan akhwat lain.    

Sementara sang akhwat hanya bisa menahan sakit karena merasa dilecehkan dan perasaan berdosa karena telah jatuh cinta pada orang yang salah. Sang akhwat hanya berharap bahwa tidak ada lagi ikhwan yang seperti itu. Berapa banyak akhwat yang akan sakit kalau banyak ikhwan yang tercipta seperti itu? Dan ketika para ikhwan itu berkumpul, mereka menertawakan para akhwat yang telah terbodohi.

Dulu sang akhwat selalu berharap, agar diberikan rasa cinta oleh Allah pada ikhwan yang berta’aruf dengannya. Tapi kisah ini benar-benar menjadi pelajaran yang berharga bagi sang akhwat untuk merevisi doanya. Ia berharap hanya akan jatuh cinta pada lelaki yang sudah menjadi suaminya.

Yah, ikhwan juga manusia…

Kisah-kisah di atas adalah kisah2 nyata, yang saya dapat dari buku dan penuturan langsung dari orang2 yang saya kenal. Sungguh miris memang saya mendengar cerita semacam itu. Saya tidak bermaksud membuka aib siapapun disini, karenanya saya tidak menuliskan secara detail dan tidak ada identitas. Saya hanya berharap kisah2 ini bisa menjadi pembelajaran yang berharga untuk kita..

Memang, perasaan cinta itu manusiawi. Bahkan itu adalah salah satu nikmat pemberian Allah. Namun hal tersebut akan menjadi indah bila kita bisa mengelolanya dengan baik. Jangan langsung percaya hanya karena ia ikhwan, tapi pastikan, apakah ia sudah bisa sejantan Ali dalam mengelola perasaannya kepadamu.

Sekali lagi, ikhwan juga manusia, ia juga manusia yang tidak sempurna, yang bisa khilaf. Mereka memiliki sifat sebagaimana laki-laki pada umumnya: MEMILIH.

Ia akan senantiasa menyeleksi wanita siapa yang paling ia ingini, bahkan sampai detik ijab kabul pun ia bisa senantiasa terus menyeleksi dan membandingkan.  

Maka bagi para akhwat yang menunggu, jangan biarkan perasaanmu jatuh pada ikhwan yang salah. Yang hanya bisa terus mengumpulkan akhwat2, tebar pesona, memberi harapan, dan disaat kamu sudah berharap tinggi dan merasa diperhatikan, ada berjuta wanita lain yang mendapat perlakuan yang sama. Hingga akhirnya ia akan memilih mana akhwat yang paling ia senangi diantara semua akhwat tersebut.

Pastikan bahwa ikhwan tersebut memang serius, dan memang berani berjalan di jalur yang serius, yang legal sesuai syariat, dan jangan biarkan benih cinta tersebut tumbuh sebelum ia berhadapan dengan ayahmu, dan mengikrarkan perjanjian suci itu di hadapanmu, keluargamu, teman-temanmu, dan yang paling penting dihadapan Allah dan seluruh penduduk langit. Mitsaqan ghalizaa.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

(Ar Rum:21)

Cinta yang sejati itu hanya timbul ketika sudah menikah, kecenderungan yang hadir sebelum pernikahan, bisa jadi adalah pemberian dari Allah sebagai tanda atau jawaban dari istikharah kita, untuk memantapkan hati kita. Namun bisa juga sebagai godaan dari syaitan. Karena nya perasaan yang hadir sebelum ijab kabul, harus bisa kita kelola dengan baik, agar tidak berkembang melewati batas yang seharusnya.

Kendatipun sudah menikah, perasaan itu pun harus bisa kita kelola sebisa mungkin agar tidak berlebihan karena meskipun sudah menjadi suami, bukan berarti suami kita itu tidak akan membuat kita patah hati.

Selain itu, cintailah pasanganmu karena Allah, dan tidak melebihi kecintaan-Mu kepada Allah. Sehingga apapun yang nantinya akan melukaimu, Allah akan senantiasa menjaga perasaanmu.

“Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, menolak karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya..”

(H.R Abu Dawud)

Mencintai itu manusiawi, terluka dan patah hati itu juga manusiawi.. Tapi yang paling penting, kita harus bisa senantiasa mengelola perasaan itu, dan mengambil hikmah dari semua yang terjadi. Semoga apapun yang terjadi dalam hidup kita, semakin membuat kita dekat dengan-Nya, dan selalu kita niatkan untuk meraih ridho-Nya. Aamiin..

Wallahualam bishowab…

Iklan

Semoga cinta ini adalah cinta misi,bukan cinta nafsu.. Sehingga bisa membuatku lebih ikhlas dan bersabar dlm setiap prosesnya,dlm setiap penantiannya..

ya Allah, Maha Pemilik Cinta, aku titipkan satu cinta itu padamu,jangan kau hadirkan dulu saat ini,jadikanlah itu sangat indah suatu saat nanti.. ketika waktunya telah tiba.. Waktu yang paling tepat dengan seseorang yang tepat,yang telah Kau persiapkan sejak dulu..

titip satu cinta itu ya Allah, cinta yang akan membuatku semakin dekat dengan-Mu, cinta yang membuat Ia pun semakin dekat dengan-Mu.. Cinta yang membuat kami semakin mensyukuri betapa Luas nikmat dan karunia-Mu, dan membuat kami saling membimbing untuk mencapai ke-Ridho’an-Mu..

titip satu cintaku Ya Mushawwir,, cinta yang bisa menghasilkan sebuah keluarga yang sakinah, cinta yang bisa menciptakan sebuah rumah yang hangat yang akan menjadi tempat bangkitnya peradaban agama-Mu..

titip satu cinta itu Ya Malik, cinta yang darinya aku lahirkan para mujahid dan mujahidah yang tangguh.. yang senantiasa siap membela agama-Mu di garda terdepan.. Ksatria yang tidak pernah takut malawan musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh Rasul-Mu..

titip satu cinta itu ya Rabb, jagalah kami, bimbing langkah kami,, sehingga kami bisa sama-sama terjaga,dan akhirnya sama-sama mendapatkan yg terjaga pula..

titip satu cinta itu Ya Rahman, cinta yang dengannya aku bisa banyak belajar, dan ia pun bisa banyak belajar, sehingga kami bisa saling mengisi dan semakin berkembang karena cinta itu..

titip satu cinta itu Ya Waliyy,, bimbing langkahnya, mudahkan urusannya, luaskan rizkinya, dan jaga dia untuk tetap berada di jalan-Mu, mudahkanlah jalannya dalam menemukan aku disini..

titip cinta itu Ya Karim,, jadikan hidupnya senantiasa bermanfaat, dan jangan lengahkan ia dgn fana nya kehidupan dunia.. Semoga saat ini pun ia sedang berjuang di sana,senantiasa berjuang untuk menggapai Syurga-Mu.. Jadikan ia orang yang bersungguh-sungguh untuk kehidupan dunia dan lebih bersungguh-sungguh untuk kehidupan akhiratnya..

titip satu cinta itu Ya Ghaffaar,, jadikan ia orang yang selalu mempelajari agama-Mu, orang yang selalu menyeru kepada agama-Mu.. jadikan ia Murrobi yang terbaik untukku dan anak-anakku kelak, jadikan ia murobbi terbaik untuk keluarga dan masyarakat..

titip cinta itu Ya Hafizh,, jaga aku dan jaga ia sampai waktu yang Kau tetapkan tiba, dan jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa bersabar dan bersyukur..

titip cinta itu Ya Rabb..

Amiin..

-Jatinangor 3 Juni 2010 20:03-
ditengah draft2 SOOCA 🙂

Bismillahirrahmanirrahiim..

Tentu kita semua sudah banyak yg mengetahui, bagaimana perilaku atau sikap masyarakat terhadap kaum wanita pada zaman dahulu. Pada zaman sebelum islam datang, banyak sekali bangsa di dunia yang mendiskriminasi kaum wanita. Bertindah semena-mena, bahkan tidak memanusiakan wanita. Coba kita lihat contoh-contoh di bawah ini :

Wanita di mata Orang2 Yunani : mereka mengklaim kaum wanita sebagai najis dan kotoran dari hasil perbuatan syetan, bagi mereka, wanita sama rendahnya dgn barang jualan di pasar. Bisa di jual ke orang lain. Tidak boleh menggunakan hartanya sendiri.

Wanita dimata Orang2 romawi : Wanita tdk punya Ruh, Sering dituangkan minyak panas pada tubuhnya, dan diikat pada ekor kuda lalu dibawa lari sekencang-kencangnya.

Wanita di mata orang2 cina : mereka bebas menjual istrinya sebagaimana budak perempuan, dianggap barang peninggalan yg bisa diwarisi kalau suaminya meninggal.

Wanita di mata Orang Persia : saat sedang haid wanita di asingkan ke tempat yang jauh di luar kota, ga ada yg boleh menemuinya.

Wanita di mata Orang yahudi : ayah berhak menjual anak perempuannya, menganggap wanita sebagai laknat dan kutukan karena pernah menyesatkan nabi Adam.

Wanita di mata orang2 Arab :
Wanita tidak punya hak waris, ada makanan yg diharamkan hanya buat kaum wanita, tidak punya hak apapun dari suaminya, laki2 berhak poligami berapapun jumlahnya, Ibu tiri menjadi harta pusaka mendiang suaminya untuk anak2 suaminya, anak bisa meminta ibunya untuk jadi istrinya, sering menjadikan istrinya bahan taruhan.

Kalau seorang suami ingin punya anak yg hebat,ia akan menyerahkan istrinya untuk digauli oleh orang yg hebat. Jika seorang wanita ditinggal mati suaminya, maka dia harus berkabung selama setahun, tdk boleh bebersih, harus tampil kumal, dan di asingkan dlm suatu ruangan. Bahkan yg tidak asing lagi, banyak anak wanita yg dikubur hidup2 oleh orang tuanya, karena pada zaman tersebut masayarakat malu bila punya anak perempuan..

Beberapa hal di atas, juga tertera dlm beberapa surat dalam Al-Qur’an :


“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” ( Q.S An Nahl : 58-59)


“Dan mereka mengatakan: “Apa yg dlm perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yg dlm perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama2 boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” ( Al-An’am : 139 )

Sungguh bisa kita lihat, betapa kejamnya perlakuan masyarakat zaman dahulu, sebelum adanya islam. Saat kondisi tersebut terus berkembang, dan semakin banyak kaum wanita yang teraniaya, Islam datang untuk melepaskan wanita dari belenggu-belenggu kenistaan dan perbudakan terhadap sesama manusia.

Islam memandang wanita sebagai makhluk yg mulia dan terhormat. Makhluk yg memiliki beberapa hak yg disyariatkan Allah. Di dalam Islam haram hukumnya berbuat aniaya dan memperbudak wanita. Dan, Allah akan mengancam orang yg berani melakukan perbuatan itu dgn ancaman siksa yg sangat pedih.. (Subhanallah, Allah baik sekali ya sama kita.. 🙂  )

Islam memandang sama antara laki-laki dan perempuan, mereka sama-sama manusia, yg membedakan adalah keimanan.. kita bisa lihat dalam ayat berikut ini..


“Barang siapa yg mengerjakan amal2 shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yg beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” ( An Nisa : 124 )


Islam sama sekali tidak menganggap wanita sebagai suatu bakteri yg mengandung penyakit dan juga bukan berasal dari hasil perbuatan syetan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( Al Hujurat: 13)


Islam begitu memuliakan wanita, dalam islam, kemuliaan dan kehormatannya dijaga dengan ketat. kita bisa melihatnya pada beberapa ayat Al-Qur’an yang Allah turunkan.

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” ( An Nuur : 4 )

Dalam islam, perempuan juga mendapatkan hak waris, bukan barang yang diwariskan seperti pada masa jahiliyah. Islam juga mengatur tentang Perceraian agar tidak mendzolimi para wanita. Pada Zaman Jahiliyah, wanita yang sedang haid benar2 di jauhkan secara keseluruhan, tapi tidak dengan islam. Dalam Islam ia sama2 saja dgn wanita lain, tidak dikucilkan, dan punya hak yang sama untuk berinteraksi.

Islam juga mengajarkan untuk menyayangi istri dan menghormati Ibu. Bahkan Rasulullah sendiri sangat menekankan agar umatnya berbuat baik pada ibunya masing2. Seperti tertera pada hadist berikut :

“Sesungguhnya Allah mengharamkan kamu berani kepada para ibu, menolak kewajiban, meminta bukan haknya, dan mengubur hidup2 anak perempuan.

Sungguh, Islam itu layaknya pahlawan bagi para perempuan,
Umar Al-Faruq r.a mengatakan,

“ Demi Allah, pada zaman jahiliyah di mata kami wanita bukan apa-apa, sampai akhirnya Allah menurunkan apa yang harus Dia turunkan ttg mereka, dan membagikan apa yang harus Dia bagikan buat mereka “

Kita juga bisa menyimak, pengakuan salah seorang bangsa eropa bernama Guostav Loubon ttg pengaruh islam bagi kaum wanita :

“Sesungguhnya Islam telah memberikan pengaruh yg positive bagi peningkatan harkat kedudukan kaum wanita. Apa yg disumbangkan oleh islam itu jauh lebih banyak daripada apa yg diberikan oleh undang2 Eropa. Secara gamblang kita dapat melihat apa yg dilakukan islam dalam upayanya memperbaiki keadaan wanita di timur yg sebelum era Al-Qur’an nasib mereka sangat memilukan.”

Dengan adanya penghormatan terhadap wanita lah, akhirnya para wanita bangkit. Mereka menjadi sebagaimana manusia seharusnya. Mereka hadir sebagai sosok yang luar biasa. Mereka akhirnya memiliki hak untuk bisa turut berkarya. Mereka tumbuh sebagai sosok wanita sesuai yang di ajarkan islam. Patuh terhadap peraturan islam. Mereka pun memiliki hak untuk belajar.

Kita bisa lihat betapa banyak wanita-wanita hebat yang hadir zaman dahulu ketika datangnya Islam. Di mulai dari para Istri Rasulullah, putri beliau, para istri sahabat Nabi, dan banyak Shahabiyah lain pada zaman itu yang bersinar sebagai sosok wanita yg luar biasa.

Mereka menjadi backingan yang baik bagi suami mereka, sehingga suami mereka bisa berjuang dengan lebih optimal. Mereka menjadi pendidik bagi anak2 mereka. Sehingga anak2nya tumbuh dalam naungan Al-Qur’an. Mencetak kader2 dan mujahid-mujahidah yang tangguh. Memotivasi mereka untuk terus belajar,berjuang, dan bermanfaat.

Hingga saat itu bermunculanlah para pemimpin2 muslim yang Tangguh. Pada zaman tersebut, Islam bangkit, islam jaya, dengan wilayahnya yg semakin meluas, dengan umatnya yg semakin bertambah, dengan ilmuwan2nya yg bermunculan. Islam berhasil menguasai peradaban dunia. Menguasai bidang pendidikan, teknologi, Ekonomi,dan bidang2 lain.


Itu semua karena banyak tokoh2 hebat yg bermunculan. Dan tentu di balik setiap mereka, pasti ada minimal 2 orang wanita hebat, yaitu seorang Ibu yang mendidiknya dan seorang Istri yg senantiasa menyokong perjuangannya.

Bagaimana mungkin Ali bin Abi Thalib bisa menjadi pemimpin yang sederhana, jika siti Fatimah bukanlah seorang wanita yang qana’ah, jika siti Fatimah adalah wanita matre yg banyak tuntutannya.

Imam Syafii bisa menjadi Ulama besar dengan berbagai ilmu yg ia kuasai, karena sokongan ibunya agar ia terus mencari Ilmu, Ibunya yg mendorongnya untuk pergi ke tanah kelahiran nabi dan banyak mencari ilmu disana.

Bahkan Rasulullah pun bisa bertahan pada masa awal kenabiannya karena sokongan dari seorang istri yg luar biasa, yaitu Siti Khadijah.

Seorang laki-laki dengan idealism yang tinggi saat masih mahasiswa, Ia bisa kehilangan idealismenya ketika ia sudah berumah tangga, jika istrinya tidak bisa menjadi seorang partner yg baik. Seseorang yg anti korupsi pun, ada yang akhirnya terpaksa korupsi untuk membahagiakan keluarganya,karena Istri dan anaknya banyak yang menuntut.

Yah, Zaman dulu banyak bermunculan wanita2 hebat, sehingga muncul pula lah para laki2 hebat, yang akhirnya menjadikan islam berada pada puncak kejayaannya. Para wanita yang bangga dengan keislamannya. Para wanita yang memuliakan dirinya dengan aturan islam. Para Wanita yg menjadikan Al-Qur’an sebagai akhlaknya, menjadikan jilbab sebagai kehormatannya, dan senantiasa menjaga kemuliaan dirinya.


Hal tersebut membuat bangsa2 di Eropa gerah. Mereka tidak suka dengan kebangkitan agama Islam. Begitupun dengan bangsa yahudi. Mereka memiliki ambisi untuk menghancurkan kejayaan Islam. Mereka mengupayakan segala cara untuk bisa menjatuhkan islam. Hingga akhirnya mereka menyadari sesuatu yang menjadi kunci dari peradaban Islam. Yaitu WANITA..

Goldstone salah seorang Kristen mengatakan, “ Situasi timur tidak akan pernah tenang kalau hijab tidak segera direnggut dari wajah wanita kaum muslimin.”

Seorang Kristen lain bernama Zummer mengatakan, “Orang2 Nasrani tidak boleh putus asa. Sebab di dalam hati kaum muslimin benar2 telah berkembang kecenderungan yang cukup mencolok ke arah ilmu bangsa2 Eropa dan kepada kebebasan kaum wanitanya.”

Jean Paul Rou juga mengatakan, “ Sesungguhnya pengaruh barat yg terlihat di segala bidang dan dapat menguasai masyarakat islam memang lebih baik tidak perlu ditonjolkan. Biarlah yg menonjol gerakan kebebasan wanita.”

Itulah beberapa pernyataan dan rencana mereka yg busuk terhadap masalah wanita.


Ya, orang2 kafir merencanakan apapun, untuk bisa menghancurkan peradaban Islam, dan mereka membuat sasaran yang sangat tepat, yaitu Wanita.. Mereka kemudian dengan siasat yang licik, menggaungkan masalah Kebebasan Wanita. Dengan gencarnya mereka mempengaruhi para wanita, dimulai dengan cara yang halus.. Hingga tanpa para Wanita sadari, semua siasat mereka lambat laun mempengaruhi fikiran dan sikap para wanita Muslim.


Dimulai dari masalah Hijab, mereka berusaha menanamkan fikiran pada para wanita, bahwa hijab atau jilbab adalah suatu yang sangat mengekang kebebasan para wanita untuk berkarya. Masalah harta waris yang mereka keluhkan tidak adil,kemudian masalah poligami dalam islam yang mereka hasutkan bahwa itu sama saja menindas kaum wanita, masalah perbedaan hak wanita dan pria dalam bekerja atau berkarya di luar rumah, dan banyak masalah yang lain, yang mereka hasutkan pada diri dan fikiran para wanita muslim.

Mereka berupaya agar para wanita muslim, terpengaruh hingga akhirnya memberontak dari hukum Islam.

Kita bisa lihat beberapa hal yang mereka (orang kafir) atau kaum feminism berusaha tanamkan pada diri wanita muslim..


Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan di bawah ini :
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah, tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak. Dan memiliki hak bekerja atau berkarya di luar rumah yg lebih terbatas.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami, bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
9. etc….

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA “

Coba, pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)?

Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.


Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anaknya.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya?

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : isteri, ibu, anak perempuan dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suami, ayah, anak lelaki dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat pada suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.

Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.

Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

Wanita yang memberi ASI kepada anaknya akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.
Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.

Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dianggap sebagai mati syahid.
Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo (2½ thn), maka malaikat-malaikat dilangit akan khabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.

Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka keatas tubuhnya.

Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang menutupi auratnya di dunia ini dengan istiqamah.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita ….kan?

Kita bisa lihat, bahwa semua yang Allah atur untuk semua Wanita Muslim, bukanlah untuk menindasnya, bukan untuk mengekangnya, tapi semata-mata untuk memuliakan kita sebagai seorang wanita. Semua yang Allah syaria’tkan, itu semata-mata untuk menjaga kita, menjaga kehormatan kita.


Tapi pada akhirnya, masih banyak para Wanita yang tidak menyadari itu dan terpengaruh oleh pemikiran2 yang digencarkan oleh Musuh-musuh Islam tersebut.

Ingat firman-Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka.

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.”
(At-Thariq 15-16 )

Maka kita, sebagai wanita Muslim,, Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukum/peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia.

Mereka, para musuh Islam, sengaja menjadikan para Wanita Muslim sebagai target utama mereka, mereka pertontonkan aurat wanita, mereka berikan gambaran2 yang mengundang syahwat bagi kaum laki-laki, sehingga para laki2 pun kehilangan produktivitasnya.. Mereka banyak memberi pengaruh buruk lewat Film, Fashion, dll..

Sehingga para wanita lupa akan peran utamanya.Mereka juga mempengaruhi para wanita untuk lebih senang bekerja di luar rumah daripada mendidik anak2nya di rumah. Mereka juga menanamkan fikiran bahwa kaum perempuan dan laki-laki harus memili hak yang sama untuk berkarya di luar rumah..


Padahal, kita bisa simak, pengakuan salah seorang Ilmuwan berkebangsaan Inggris bernama Samuel Simels, salah seorang yg menjadi sendi bagi kebangkitan negeri tersebut, dengan jujur pernah mengatakan :
“Sesungguhnya system yg mengatur supaya wanita sibuk bekerja di luar rumah atau di Industri2, sekalipun hal itu menjanjikan kesejahteraan, namun ia juga dpt berakibat merobohkan mahligai rumah tangga. Soalnya system itu menyerang langsung pada rangkanya, merobohkan pada sendi2 keluarga, mengoyak-ngoyak berbagai ikatan sosial, dan merampas istri dari suaminya, anak2 dari kaum kerabatnya..”

Itu karena indutstri2 tersebut justru membuat kaum wanita harus melepaskan kewajiban2 mulianya, mengorbankan anak2nya yg tumbuh tanpa sentuhan pendidikan dan perhatian yg menyebabkan mereka terlempar di sudut2 kesepian seraya kehausan akan kasih sayang seorang Ibu.

Kita bersama tau, bahwa Ibu adalah madrasah utama bagi anak2nya, Ibu yang membangun kepribadian dan karakter yg baik bagi anak2nya. Di balik para pejuang atau pahlawan yang hebat, ada seorang Ibu yang kuat. Dibalik para Ulama dan para Sahabat2 Rasul pada zaman dahulu, ada wanita2 hebat di belakang mereka, yang senantiasa membina mereka. Itu yang akhirnya menjadi kunci bangkitnya peradaban Islam saat itu.

Karena itu, cara ini, juga mereka, para musuh2 islam gencarkan pada para wanita muslim. Mreka ingin agar kita lebih senang bekerja daripada mendidik langsung anak2 kita. Dengan ini, banyak anak2 yang akan terjebak pergaulan bebas, yang broken home, yang ga diajarkan Al-Qur’an dari kecil, hingga zaman sekarang sedikit sekali anak2 yang bisa hafal Al-Qur’an. Padahal masa anak2 adalah masa paling mudah dalam menghafal.


Mereka ingin agar generasi2 penerus islam, tidak mendapatkan pendidikan yang layak atau pembinaan yg benar dari Ibunya. Sehingga tidak ada yg bisa meneruskan estafet bangkitnya peradaban islam. Terbukti sekarang, Islam tidak lagi memegang kunci peradaban dunia, banyak ilmuwan2 yang bermunculan bukan dari kalangan Islam. Roda ekonomi,politik, pendidikan, kesehatan, sudah tidak lagi di pegang oleh Islam, itulah bukti keberhasilan mereka dalam mempengaruhi kita.

Padahal kita bisa tahu betul, bagaimana hebatnya wanita2 yahudi mendidik anak2 mereka.. ibu2 yahudi sangat lihai dan fokus dlm mendidik anaknya untuk membenci rakyat palestina dan terbiasa membunuh dan menyakiti anak2 kecil yg lemah..

Coba, kita bisa bayangkan sebagaimana kuat tarbiyah ibunya pada anak2nya, sampai ketika dewasa, bangsa yahudi tidak memiliki kasihan sedikitpun saat menyakiti anak2 dan membunuhi orang2 palestina..

Sejak anaknya masih dalam kandungan mereka banyak belajar juga, agar anak2nya menjadi cerdas. Ketika anak2nya lahir, mereka focus mendidik mereka. Sehingga Kita bisa lihat, banyak sekali sektor2 kehidupan yang dikuasai orang2 yahudi sekarang.

Sudah selayaknya kita juga mnjadi Ibu yg lihai dan fokus dlm mendidik anak2 kita sehingga bisa mnjadi prajurit Mujahid dan Mujahidah Allah yg tangguh yg siap mempersembahkan hidupnya untuk bangkitnya kejayaan Islam.. Mengembalikan tonggak peradaban Islam. Kita juga harus bangkit, dan jangan mau kalah sama mereka.

Karena itu akhwat yang InsyaAllah selalu disayang Allah, kita sudah tau bagaimana dulu posisi wanita di masyarakat, dan kita juga sudah tau bagaimana derajat kita menjadi tinggi dan kedudukan kita menjadi luhur setelah datangnya Islam.. Kita sudah tau bagaimana Islam senantiasa menjaga dan memuliakan kita.. Bukankah kita dianggap makhluk2 yg hina dan diperbudak sebelum islam datang??

Apa kita akan mengikuti fatamorgana tersebut dan kembali mati kehausan setelah sebelumnya kita berlimpahan air??

Karena itu. Kuatkan keyakinan kita, jangan sampai kita terpengaruh oleh niat2 jahat mereka.. kita adalah Wanita,yang merupakan kunci dari sebuah kebangkitan peradaban, kunci dari lahirnya para Ulama dan Ilmuwan.. dan kita adalah Wanita Muslim,kunci dari bangkitnya kembali peradaban Islam.


Ketika mereka para musuh-musuh Islam menyadari kunci itu, menyadari potensi itu untuk menghancurkan islam, maka kita pun harus bangkit dan menyadari potensi itu, untuk meraih kembali masa kejayaan Islam..

Bagaimana caranya?? Kembalilah pada islam, bagaimana cara islam mengajarkan kita,bagaimana cara islam memposisikan wanita, dan bagaimana wanita seharusnya menurut islam.. Maka, kau akan menjadi wanita luar biasa, wanita yang dimuliakan, wanita yang menjadi tonggak peradaban, wanita yang dicinta dunia dan dirindu syurga..

Tunjukanlah pada dunia, pada mereka semua, pada musuh2 islam, bahwa :

“I’m a Women, and I’am a Muslimah..”

Dan katakana pada mereka,,
“Saya yakin pd aturan Islam terhadap saya, karena saya yakin itu semua Allah berikan untuk menjaga dan memuliakan saya,,karenanya percuma saja kalian mau mempengaruhi fikiran saya, krn bagaimana mungkin saya akan mengikuti fatamorgana kalian dan terjebak dlm nikmat sesaat yg berakhirat derita,jika islam telah mengangkat derajat saya dan menjanjikan sesuatu yang lebih indah untuk saya dan muslimah-muslimah yang lainnya.. ”

Wallahua’lam bishawab…

..Hanya kepada Allah lah manusia bergantung dan berserah diri..

kau datang dalam hidupku,

Mengisi ruang kesepian,

Mengobati kekosongan jiwa,

kau hadir dalam hidupku,

Bagaikan hujan yang mengguyur sang Bumi,

Ia datang tiba-tiba,

Tanpa aku sadari,

Memberikan kesejukan

Menggemburkan tanah dan ladang,

Lalu dia pergi

Hilang..

Hanya meninggalkan bekas hujan

Meninggalkan genangan air

Ya, semua datang dan pergi,

Meninggalkan kenangan masing-masing

Baik itu pahit dan sakit

Maupun menyenangkan

Hingga aku sadari

Tidak ada yg pernah abadi

Tidak ada yg selalu bersedia di sisi

Menemani hari-hari sepi

Hingga aku sadari

Hanya Kau tempat ku bergantung

Hanya Kau yang senantiasa ada

Untukku mengadu

Untuk ku bercerita

Untuk menemani hari-hari sepi

Yang sunyi bagai tak ada penghuni di bumi

Selain aku dan Kau..

Kau yang selalu terbuka

Untukku berdoa

Untukku berharap

Untuk selalu di sisiku

Menemani setiap kekosongan jiwa

Mengisi setiap ruang kesepian

Untuk memberikan semangat

Memberikan arah, di saat ku mulai goyah

Rabbi, jangan Kau tinggalkan aku,,

Aku tak perduli,

Satu-persatu dari mereka pergi,

Aku tak peduli,

Asal Kau tetap di sini,

Di hati yg lemah ini..

Mengingat kembali perjalanan hidup selama 21 tahun ini,

Mengingat semua peristiwa  yang terjadi,,

Peristiwa-peristiwa indah yang membuatku tersenyum mengingatnya,

maupun peristiwa-peristiwa pahit yang membuatku  terkadang kembali menangis..

mengingat kembali setiap orang-orang yang pernah hadir,

mengisi indahnya hari-hari yg sedang aku jalani, namun tak berapa lama, meraka kembali pergi..

semua orang di kehidupan kita akan selalu datang dan pergi,

berganti lingkungan, maka individunya pun akan senantiasa berganti,,

mengingat kedekatan dengan teman-teman di SD, SMP, SMA,

mereka semua pernah mengisi hari-hariku, menjadi teman yg senantiasa ada, menjadi  tempat cerita yang nyaman, menjadi rekan untuk belajar dan kawan untuk bermain.

Namun tak berapa lama, semua kembali berganti..

Karena jarak tak kembali merestui, untuk bisa selalu bersama..

Walau ajang reuni terkadang bisa mengobati, tapi tetap ada yg terasa beda, karena setiap manusia pun akan berubah.

Begitupun ketika sampai di bangku kuliah,

Mengingat kelompok tutor yg senantiasa berganti,

Dan waktu kosong yg tidak selalu sama

Semua pun akhirnya kembali datang dan pergi

Kadang merasa begitu dekat, tapi tiba-tiba merasa jauh, bahkan untuk bercerita pun menjadi sulit.

Ketika ada seseorang yg benar-benar membuatku merasa nyaman, merasa aman, merasa senang, akhirnya pun kembali pergi,karena sebuah alasan.

Pergi bahkan tanpa ada lagi komunikasi..

Bahkan orang tua yang senantiasa ada,

Saat mata ini terbuka di pagi hari,,

Kini  mereka terasa jauh..

Dan bahkan suatu saat pun,

Mereka mungkin akan benar-benar meninggalkan kita..

Di tengah kesendirian, sangat terasa di hati ini, bahwa dalam kehidupan tidak pernah ada yg abadi.

Bahwa bergantung pada manusia, tidak akan memberikan rasa aman,

Karena kita nggak pernah bisa menjamin,

Dan mengatur hati manusia,

bila nama kita tak lagi hadir di hatinya,

maka tidak bisa dipaksa untuk kembali hadir,

bila kita bukan teman yg diharapkannya,

maka kita pun tak akan pernah bisa memaksa,

setiap orang punya hak masing2,

untuk merasa nyaman pada kita, lalu tiba2 pergi  karena sebuah alasan.

Karenanya, jangan gantungkan diri kita pada manusia,,

Sekalipun pada orang tua kita sendiri,

Karena kita tidak akan pernah bisa merasa aman sepenuhnya..

Semuanya akan datang dan pergi,,

Tanpa bisa kita atur,,

Karenanya, senantiasa  gantungkan diri kita,

Hanya pada Dia yang senantiasa ada..

Yang tidak akan pergi meninggalkan kita,

Selama kita masih mau bergantung padaNya,

Masih menjadi hambaNya yang senantiasa mencintaiNya

Dan senantiasa mendekatkan diri padaNya,,

Rasulullah SAW Bersabda,

“Allah SWT berfirman,’Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal,maka Aku pun mendekat kepadanya sehasta, Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sehasta,maka Aku pun akan mendekat kepada-Nya sedepa, Barang siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku pun datang kepada-Nya dengan berlari..” (HR Muslim)

Bismillahirrahmanirrahim,,

Akhwat shalihah yg dimuliakan Allah,,

Ingatkah kita akan kejadian zaman dahulu kala. Ketika posisi wanita sangat rendah di mata masyarakat.  Banyak orangtua yang malu,jika dikaruniai seorang anak perempuan. Bahkan tanpa belas kasihan, mereka pun mengubur putri mereka hidup-hidup.  Saat itulah, Islam datang bagaikan pahlawan. Islam mengajarkan kita semua untuk memuliakan kaum wanita. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang mengajarkan kepada kita dan menerangkan kepada kita tentang kemuliaan seorang wanita.

Benar saudariku,, wanita adalah makhluk Allah yang sungguh mulia. Allah begitu menjaga kita agar senantiasa menjadi sosok muslimah yang dirindu syurga. Tapi terkadang kita terlalu buta untuk mau memahami maksud Allah dari setiap ajaran-Nya. Banyak dari kita yang menodai kemuliaan diri kita sendiri karena hawa nafsu kita.

Setiap apa yang Allah ajarkan kepada kita,adalah senantiasa agar kita tetap menjadi seorang wanita yang terjaga, yang mulia, yang terhormat. Tapi terkadang kita merasa itu sebagai sebuah kekangan bagi kita. Tidak sedikit yang merasa berat dan akhirnya jatuh kepada bujuk rayu fatamorgana dunia.

Allah telah menciptakan kita begitu sempurna, begitu indah.  Karena itu, Allah juga khawatir, keindahan kita bisa menjadi boomerang buat kita, sehingga menjadikan kita sebagai mainan bagi para laki-laki, menjadi pemuas hawa nafsu mereka, sedang kita tahu, bahwa nafsu seperti itu adalah nafsu syaitan. Karena itu, Allah mengajarkan kita untuk senantiasa menutup aurat kita. Agar kita senantiasa terjaga, senantiasa terlindungi, dan agar kita bisa mempersembahkan keindahan itu hanya pada pendamping kita kelak.

Allah mengajarkan banyak hal pada kita, untuk senantiasa memuliakan diri kita sendiri, menjaga diri kita sendiri, sehingga kita bisa menjadi wanita yang terjaga iffah dan izzahnya. Menjadi muslimah yang dimuliakan baik di dunia maupun di syurga-Nya.

Allah juga mengajarkan kita untuk menjadi muslimah yang seimbang, yang menyeluruh, yang kaffah. Sebagaimana seorang hamba Allah yang lain, kita tidak hanya dituntut untuk menyempurnakan ibadah kita, tetapi kita juga diajarkan untuk menyempurnakan muamalah kita. Kita tidak hanya dibina untuk Hablumminallah yang baik tetapi juga hablumminannash yang baik.

Kalau kita mau melihat lebih jauh, tentu banyak fenomena-fenomena yang aneh di sekitar kita,, banyak muslimah yang memahami suatu ajaran dengan baik, tapi tidak memahami ajaran yang lainnya.

Sebagai contoh, kita bisa menyaksikan seorang wanita muslimah yang shalehah, melaksanakan syiar-syiar Islam. Namun, tidak menghiraukan kesehatan dan kebersihan mulut dan dirinya. Tidak peduli dengan kesehatan dan aroma yang keluar dari mulut atau tubuhnya.  Padahal kita tau, bahwa Allah juga cinta kebersihan.

Contoh lain, kita dapati ada seorang muslimah mencurahkan perhatiannya pada ibadah tapi tidak memiliki pandangan yang benar tentang Islam yang menyeluruh, ‘bagaimana Islam menyikapi alam, kehidupan dan manusia.’

Ada yang semangat belajar Islamnya baik. Antusias menghadiri majelis-majelis ilmu, tapi tidak menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba).

Ada yang hubungan pribadinya dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala baik, tapi tidak menjaga hubungan baik dengan tetangga dan teman-temannya.

Ada Yang hubungannya dengan teman-teman dan tetangganya baik tapi tidak melaksanakan dengan baik hak-hak orang tua. Kurang-kalau tidak dikatakan sama sekali tidak-mereka dalam berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ada yang berbakti kepada kedua orang tuanya tetapi tidak memenuhi hak-hak suaminya. Tampil dengan dandanan indah saat menghadiri pertemuan-pertemuan dengan para wanita tetapi tidak pernah memperbaiki penampilannya di depan suaminya.

Ada yang berbakti kepada suaminya tetapi tidak membantu suaminya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Atau tidak mendukung suaminya untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan beramal shaleh.

Ada yang berbakti kepada suaminya tapi kurang memperhatikan pembinaan dan pembentukan kepribadian anak-anaknya. Kurang memperatikan perkembangan kejiwaaan dan akal mereka. Kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya yang memberikan pengaruh kepada putra-puterinya.

Ada yang silaturahim terhadap keluarganya baik, tapi hubungannya dengan lingkungan sekitarnya tidak baik. Sibuk dengan urusan pribadinya. Tidak peduli dengan persoalan kaum muslimin dan muslimat.

Ada yang memperhatikan persoalan pribadi dan umat islam tetapi kurang memperhatikan pengembangan pengetahuannya. Tidak menambah pengetahuannya dengan belajar dan terus membaca.

Ada yang sibuk dengan belajar tetapi mengabaikan urusan rumah tangga, putera puterinya dan suaminya.

Hal Ini kadang-kadang terjadi dikarenakan muslimah tidak peduli atau tidak memiki pandangan yang utuh tentang Islam. Pandangan yang menyeluruh tentang manusia, kehidupan, dan alam sekelilingnya. Muslimah hanya memerankan satu aspek dengan baik, tapi tidak aspek lainnya.

Kalau mau dilihat, banyak sekali peran yang dimiliki seorang muslimah. Sebagai hamba Allah yang sudah seharusnya untuk taat, sebagai khalifah di bumi-Nya,  sebagai seorang anak, sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu, seorang tokoh masyarakat, seorang da’iyah, dan peran-peran lainnya.

Setiap peran itu seharusnya bisa dimainkan secara seimbang. Al-Qur’an dan hadist telah banyak mengajarkan kita bagaimana perilaku kita dalam menjalani setiap peran itu,dan ilmu mengenai berbagai peran tadi pun harus bisa dipelajari secara seimbang. Sehingga kita sebagai muslimah bisa menjalankan setiap peran itu dengan baik.  Dan tentunya tujuan akhir dari setiap peran itu adalah untuk mencapai Ridha Allah SWT. Mengantarkan kita pada kesuksesan di dunia dan keberuntungan yang sangat besar di hari kemudian.

Semua ini yang telah digariskan oleh Islam dalam Al-Qur’an  dan sunnah akan mengantarkan seorang wanita muslimah mendapatkan kepribadiannya yang asli. Kepribadian yang sejalan dengan fitrahnya. Kepribadian yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga melahirkan wanita muslimah yang unggul, mulia dan istimewa dalam perasaan, pemikiran, prilaku dan hubungannya. Wanita yang senantiasa mulia dalam setiap aspek kehidupannya.

Tidak kah kita ingin bisa menjadi wanita-wanita yang senantiasa dimuliakan dan memuliakan dirinya?? Tidak kah kita ingin menjadi seperti wanita-wanita pendahulu kita, yang bahkan ketika nafasnya masih berhembus pun sudah dijanjikan keindahan syurga??

Menjadi seperti Ibunda Khadijah,Aisyah, Fatimah, Maryam, dan shahabiyah lainnya??

Teringat pula akan kisah dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata,

Ibnu Abbas berkata padaku,

“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’
Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’
Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.

Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu?

Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?

Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?

Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada apa-apanya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Saudariku, jadilah kita muslimah sejati, muslimah yang senantiasa dimuliakan. Yang hatinya senantiasa di liputi ketaatan,yang akhlaknya mencerminkan Al-Qur’an, sikapnya disenangi banyak orang,   dan hidupnya penuh kebermanfaatan. Jadilah kita wanita mulia, yang dari rahimnya lah lahir generasi2 rabbani, dari bimbingannya lah muncul pahlawan2 peradaban, dari pengorbanannya lah hadir mujahid-mujahidah yang tangguh.

Karena itu saudariku, berjuanglah, bertekadlah, dan tunjukkanlah bahwa kita bukan muslimah sembarangan. Jangan sampai kita terlena oleh fatamorgana dunia. Kita harus senantiasa bangga dengan jati diri kita, sebagai seorang muslimah. Tentu kita juga tidak ingin hanya menjadi manusia biasa, kita harus bisa menjadi muslimah yang sesungguhnya. Muslimah yang kaffah, yang menyeluruh, sehingga kita bisa menjadi wanita yg di cinta dunia dan dirindu syurga.

Tunjukkanlah saudariku, tunjukkanlah pada dunia, pada seluruh alam semesta, agar semuanya menyaksikan, bahwa kita adalah seorang MUSLIMAH!!


Sambil mengisi waktu, di tengah tak berdayanya tubuh untuk di ajak beraktivitas^^,, mungkin Allah memang sedang menyuruh untuk istirahat 🙂 , akhirnya hanya bisa terkulai lemas sambil mencoba merangkai kata, mengulangi rekaman kejadian tepat 3 hari yang lalu, saat hari bahagia saudara sepupuku Kania Adhiyanishita dengan suaminya Andhika.

Ya, hari itu, entah kenapa tamu tak diundang itu kembali hadir, ya, air mata itu kembali membanjiri wajahku di saat2 yang seharusnya aku tersenyum menghadiri akad nikah sepupuku. Entah sudah berapa kali, aku menangis saat mengikuti akad nikah saudara2 ku. Aku sendiri tidak yakin benar apa alasan yg membuat akhirnya air mata itu kembali terjatuh.


Aku hanya merasa suasana itu begitu syahdu, begitu mengharukan, begitu suci  dan begitu mengikat. Aku merasa akad nikah adalah sesuatu yang sangat sakral. Di saat itulah sang ayah, benar-benar melepaskan putrinya. Melepaskan putri yang selama ini di rawatnya, dididiknya, dijaganya dengan penuh rasa cinta dan kehati-hatian. Saat inilah sang ayah menyerahkan putrinya pada seorang pria yang telah dipilih, untuk menggantikan semua kewajibannya. Menjaganya, menafkahinya, mengayominya, dan mencintainya sepenuh jiwa dan raga.

Di dalam akad nikah inilah, terucap janji, untuk mengikat diri sebagai sepasang suami istri, yang saling menyayangi dan tidak menyakiti satu sama lain.  Yang menjalankan kewajibannya masing-masing guna menciptakan sebuah keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Janji yang seharusnya selalu diingat, di saat hati mulai jenuh, di saat jiwa mulai bosan, disaat fisik mulai lelah, disaat cinta mulai pudar, janji inilah yang harus selalu diingat. Untuk kembali menguatkan diri, kembali merangkai cita, kembali membangun cinta.

Ya, aku rasa ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata haru. Haru dengan semua prosesi sacral itu. Haru dengan prosesi pemindahtanganan semua tanggung jawab itu. Hati ini hanya menyimpan harap, semoga kelak tanggung jawab terhadapku bisa diserahkan ayahku ke orang yang benar2 tepat. Orang yang benar2 bisa menjaga janji pernikahannya pada ayahku sampai akhir hayat kami. Orang yang benar2 bisa menjaga tanggungjawab itu, dan menggantikan kewajiban ayahku dengan baik. Bisa senantiasa membimbingku menggapai Ridha-Nya,Melahirkan generasi2 mujahid, dan menjadi Murrobi terbaik yang akan mengajakku terbang ke syurga-Nya.. Amiin..

Semoga setiap suami istri senantiasa mengingat kembali janji akad nikahnya ketika menghadapi permasalahan apapun dalam rumah tangganya. Sehingga bisa kembali menguatkan hati, dan menyadari tanggungjawabnya masing-masing.

Setelah akad nikah, acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Pernikahan yang bernuansa pink itu sangat menarik hati untuk bisa men-copy paste itu suatu saat nanti^^.. Subhanallah loh, ternyata cocok juga loh, kalau pink dipadu dengan warna silver. Istrinya terlihat cantik, suaminya terlihat gagah. Inspiring banget lah,untuk mewujudkan cita2 menikah dengan busana pink,heheu^^..

Di pernikahan itu, bener2 latihan buat jadi pengantin. Berdiri lama mempersilahkan para tamu undangan yg mau memberi selamat, dan sampai para tamu habis,kita belum boleh duduk. Pengalaman yang unik juga, adalah setelah kita boleh berpencar. Waktu dulu, waktu kita masih remaja (ceritanya skrg udh dewasa^^),, aku sama saudara2 aku tuh pasti bareng2.. jadi pagar ayu bareng, terus berkeliarannya bareng, makannya bareng sambil ngobrol2. Nah sekarang, ketika semua beranjak dewasa dan udah punya pacar masing2, aku deh yang kebingungan. Setelah kita menyelesaikan tugas kita, ketika aku mau ajak saudara2 aku ambil makan, ternyata mereka sudah berpencar duluan dengan pacarnya masing2.. waduh, sedih juga, akhirnya aku berkeliaran sendiri, dan salam sana-sini kalau ada saudara yg aku kenal.

Hmm, sempet terbersit pikiran iseng, karena aku ga boleh pacaran, biar kalo saudara2 aku nikah aku ga sendiri lagi, gimana kalau aku juga cepet nikah aja yah??! Hihihi^^,, tapi logika kembali menyadarkan, huss2, kayak yg udah siap aja.. jadi istri dan jadi ibu itu bukan pekerjaan sembarangan harus dipersiapkan dengan matang. Apalagi aku nya masih kekanak-kanakkan kayak gini.. Tapi benar loh saudara2,, kalau kita mau mempelajari dan memahami lebih jauh,pekerjaan seorang ibu itu tidak main2, semakin dipelajari,aku jadi semakin merasa blm siap..

Tapi semoga ketika waktunya tiba, aku sudah cukup siap dan dewasa dalam menjalani dan menyikapi semuanya,, amiiin…. Ups,, udah ah,, jadi ngomongin itu.. saya kan masih keciiilll…^^..

Pokoknya,, Barakallah lah buat Uni Nia dan da Andhika,, semoga pernikahannya Barakah dan  bisa membentuk keluarga yang sakinah,mawaddah,warahmah, melahirkan generasi2 yang shaleh dan shalehah^^,amiin^^..



Ikhwatifillah,para pejuang Allah :),,

ditengah kesibukan yang kita lalui saat ini, ditengah hiruk pikuk kehidupan yang kita jalankan, di tengah nafsu-nafsu dunia yang terkadang melenakan,  mari kita berdiam diri sejenak.. mari kita merenung kembali,bermuhasabah diri,tentang hakikat penciptaan kita sebagai seorang manusia..

Mengapa Allah menciptakan kita sebagai manusia, dan menjadikan kita makhluk yang bisa berfikir, membedakan mana yang baik dan buruk, dan menjadikan kita sebagai khalifah fil Ard, pemimpin di Bumi-Nya ini,, mari kita kembali merenungi sejenak ayat-ayat indah dari kitab suci Al Qur’an yang Allah turunkan kepada baginda kita Nabi Muhammad SAW,,


Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. ( Al Baqarah : 30 )

Allah menciptakan kita, manusia, sebagai khalifah di bumiNya ini, sebagai wakil Allah di bumi-Nya ini. Untuk menjaga buminya, dan mencegah kerusakan. Kita di amanahkan untuk menyebarkan kebaikan di bumi. Menyebarkan agamanya, menyampaikan keindahan ajaran islam.. Allah begitu percaya pada kita, bahwa kita, hamba-Nya, akan menjaga bumi-Nya dengan baik.

Apakah kita akan menjaga kepercayaannya, dengan menjadi wakil yang baik, hamba yang baik, atau kita melanggar janji kita pada Allah, dan mengingkari kepercayaan yang Allah berikan. Itu semua pilihan kita masing-masing, yang pasti setiap perbuatan yang kita lakukan akan ada balasannya..

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. ( Al Fathiir : 39)

Untuk itu, sebagai hamba yang baik, sudah seharusnya kita menjaga kepercayaan itu.. dengan cara apa?? Dengan menyebarkan ajaran-Nya, menyebarkan kebaikan, kita diamanahkan oleh Allah untuk menyebarkan kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.  Yaitu dengan cara  berjihad di jalan Allah..

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih?

( As Saff : 10)

“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,”

(As Saff: 11 )


Tahapan2 Jihad di jalan Allah itu sendiri ada 3 :

  1. Pengingkaran dengan hati, kita mengingkari apa-apa yang menurut kita tidak baik. Kita tidak menyukai hal tersebut, dan memohon kepada Allah agar saudara kita diberi petunjuk
  2. Menegur atau melakukan larangan, baik dengan lisan maupun tulisan. Ini merupakan kegiatan dakwah yang biasa kita lakukan.
  3. Dengan tangan dan kekuasaan atau berperang di jalan Allah.. Ini dilakukan ketika kemunkaran yang terjadi sudah diluar batas,  ketika sudah tidak ada jalan lagi selain berperang di jalan Allah.

Karena itu, saudariku,, kita sebagai hamba Allah, yang menjadi khalifah fil ard, harus bisa menyebarkan kebaikan di bumi ini, salah satunya dengan jalan dakwah ini.. Karena percayalah, ketika kita mau berjuang membantu agama Allah, niscaya Allah juga akan memberikan kemudahan bagi kita..


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. ( Ali Imran : 104 )

Jangan ragu, jangan putus asa.. tetaplah yakin, bahwa ini memang jalan kita..

Ketika banyak cobaan menghadang, ketika banyaknya perampok jalanan, kembali mantapkan hati kita, bahwa memang inilah jalan kita..

Kembali semangati diri kita, ketika diri ini mulai merasa lelah, mulai merasa jenuh, mulai merasa malas, mulai merasa ingin mundur, merasa sendiri, ingat kembali janji Allah,,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

( Muhammad: 7)


Percayalah saudaraku, ketika kita berjuang di jalan ini, maka Allah akan memberikan rahmat-Nya pada kita.. Percayalah bila kita senantiasa menolong agama-Nya, maka Allah pun akan menolong kita..

Tapi jangan lupa pula, ketika kita berniat menyebarkan kebaikan,akan lebih optimal ketika kita mengerjakan secara berjama’ah.  Kita harus bisa bergerak bersama..

Kenapa??

Karena dengan bersama setiap pekerjaan akan terasa lebih ringan.

Akan adanya strategi-strategi dakwah yang bisa kita diskusikan bersama, potensi2 hebat dari masing2 individu akan dikumpulkan jadi satu,dan bisa menjadi gebrakkan yang lebih dahsyat.

Selain itu tidak akan ada overlap karena adanya pembagian tugas, pembagian wilayah kerja dan lain2..

Allah pun sudah mengajarkan kepada kita untuk bisa berjihad bersama, seperti yang tertera dalam ayat berikut,,


“Sesungguhnya Allah mencintai orang2 yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang kokoh..”

(Q.S 61:4),,


Membentuk barisan yang teratur bukan gerombolan, kita membentuk barisan yang kokoh. Bukan gerombolan yang berantakan, tanpa pemimpin, tanpa arahan gerak,dan tanpa tujuan.. Kita harus bisa membentuk suatu barisan yang teratur. Yang memiliki arahan, yang memiliki pemimpin, yang memiliki tujuan dan strategi untuk mencapainya.

Karena kebaikan , walaupun itu kebaikan kalau tidak terencana dengan baik akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik.. karena itu kita harus bisa bergerak bersama.  ayo para pejuang,kita luruskan kembali niat, atur kembali barusan, dan kokohkan kembali kekuatan^^..

Kita berkewajiban untuk menyeru, berjuang sekuat tenaga. Tapi untuk hasil itu urusan Allah. Kita nggak bisa memberikan hidayah pada seseorang,kita hanya berupaya agar Allah bisa memberikan hidayah pada dia.

Jadi janganlah terlalu bersedih kalau usaha kita belum mencapai target, yang terpenting kita berusaha terus semaksimal mungkin.. Tapi bukan berarti juga kita tetap diam saja,kita juga harus selalu mengevaluasi diri kita, apa yg salah dari kita. Jangan sampai hal itu melenakan kita, karena kita tetap mempunyai kewajiban untuk berjuang sekuat tenaga. Tetap tumbuhkan semangat pada diri kita^^..


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

( An Nahl : 125 )


Dalam melakukan penyeruan,haruslah dengan cara yang baik, bukan dengan kasar atau ancaman. Kita harus bisa menyeru dengan hikmah, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah. Jangan sampai setiap orang merasa antipati dan terpaksa. Jangan sampai setiap orang melakukannya karena perintah atau takut.

Karena bukan itu tujuan kita. Kita mengajak orang untuk memahami islam, mencintai Allah dan Rasulnya. Bukan mengajak mereka beribadah, tapi hati mereka tidak ikut dengan ibadahnya..

Kita menyeru agar mereka bisa menghayati dan mencintai apa yang kita seru. Agar mereka bisa mencintai jalan yang mereka pilih. Kita bukan mengajarkan mereka untuk rajin shalat saja, tapi untuk mencintai shalat itu. Dengan demikian, dimana pun ia berada, ada atau tidak adanya kita, mereka tetap berpegang teguh pada prinsipnya.

Dakwah bukan management perusahaan tapi management hati, jadi dilakukan dengan berbagai pendekatan hati. Kita harus bisa mendapatkan hati mereka,dengan begitu akan lebih mengena ke saudara2 kita.. Kita harus bisa menyentuh hati mereka terhadap apa yang kita seru.

Selain itu, jadilah contoh yang baik untuk mereka. Jadilah bukti nyata dari ucapan kita, jadilah orang yang baik dan ramah, selalu membantu, yang ada ketika mereka butuh.. Karena kata-kata itu kehilangan makna dan kekuatannya karena muncul dari hati yang tidak meyakininya, Siapapun tidak bisa meyakini kata-kata yang diucapkannya sebagai suatu kebenaran kecuali jika dirinya menjadi contoh hidup dari ucapannya, dan perwujudan nyata dari kata-katanya.  Karena itu, jadikanlah diri kita teladan dari setiap ucapan kita.

Selamat berjuang saudaraku,  bantulah saudara kita untuk mengenal Allah dengan berdakwah. Jangan sampai kita menikmati indahnya islam sendirian.

Tapi ingat pula, untuk bisa berdakwah di jalan Allah, tidak bisa dengan kepala kosong. Kita pun harus senantiasa menambah ilmu pengetahuan kita. Kita akan senantiasa membutuhkan pembinaan diri. Karena itu jangan pernah lelah untuk belajar.


Selain itu, untuk mancapai keberhasilan dakwah yang optimal dan menyebar luas,jangan berkumpul di satu titik, menyebarlah, agar kebaikan itu semakin tersebar luas. Dakwah lewat apapun itu.

Jadi contoh yg baik di lingkungan, di awali dengan lingkungan terdekat. Keluarga,Angkatan, kampus, senat,bpm dll.. Inilah yang membuat kita membutuhkan strategi, strategi untuk menempati masing2 posisi. Dengan begini, kita bisa mencapai hasil dakwah yang lebih optimal.


Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya

( At Taubah : 122)


Masing-masing dari kita mempunyai tempat sendiri untuk berjuang, dan untuk berdakwah, bisa lewat cara apapun. Bisa dilakukan dimanapun, dan kepada siapapun..

Jadi bergeraklah, menyebarlah, sebarlah kebaikan itu, sebarlah keindahan agama ini. Jangan pernah patah karena lelah.

Bergeraklah hingga kelelahan itu lelah mengejarmu. Yakin akan janji Allah, yakin akan pertolongan Allah..

Ingatlah, bahwa kereta dakwah akan terus berjalan dengan ataupun tanpa kita, karena itu, jangan sampai tertinggal. Jangan sampai kita gugur di tengah jalan, jangan sampai kita kehilangan kesempatan mulia ini..

Semangat ikhwatifillah, karena istirahatnya seorang muslim sejati adalah ketika ia telah menginjak pintu syurga. .


Assalamualaikum wrwb…

Ahlan wa Sahlan ya Akhi, ya ukhti... semoga bisa bermanfaat untuk semuanya^^

demi masa

Oktober 2017
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Nutrisi Jiwa

Allah tak pernah menjanjikan hari-hari kita berlalu tanpa sakit,berhias tawa tanpa kesedihan,senang tanpa kesulitan.. Tetapi Allah menjanjikan kekuatan kepada kita,untuk dapat melewatnya, selama kita ber-husnuzan kepadaNya..

Status

berusaha sabar dan ikhlas^^..