Najmulhayah's Blog

Ibu, madrasah Akhlak dan sumber percikan cahaya Peradaban..

Posted on: Februari 9, 2010

Bismillahirrahmanirrahiim…


Sayyid Qutb mengatakan,

“Saya percaya kekuatan ilmu,juga yakin dengan kekuatan pengetahuan,namun jauh lebih percaya dengan kekuatan Tarbiyah(pendidikan)”

Iya, kekuatan terbesar untuk  mencapai  kesuksesan adalah pendidikan, kekuatan terbesar untuk menjadikan suatu bangsa yang Madani adalah pendidikan, dan kekuatan besar yang bisa membentuk peradaban islam yang di hormati dan di agungkan adalah yang kita sebut dengan pendidikan..

Karena Pendidikan lah Ibnu Sina, Ar-Razi, dan ilmuwan-ilmuwan muslim lain di beberapa abad lalu meninggikan martabat agama Islam. Karena usaha keras mereka lah nama Islam dikenal sebagai agama yang Rahmatan lil alamin.. Karya-karyanya tersebar di berbagai pelosok dunia, untuk diaplikasikan maupun dijadikan sarana Pendidikan.. Karena perjuangan mereka lah Islam berada pada masa Kegemilangannya saat itu..


“Seorang wanita (ibu)  adalah lembaga pendidikan, yang jika ia benar2 mempersiapkan dirinya, berarti  ia telah memepersiapkan sebuah generasi  yang benar2 digdaya” (Ahmad Syauqi)

“ Seorang Ibu adalah sekolah apabila engkau persiapkan dengan baik berarti engkau telah mempersiapkan generasi yang harum” (Syair Hafizh Ibrahim)

Lalu,sadarkah kita bahwa Madrasah utama, Guru terbaik, Pendidik pertama bagi seorang anak adalah seorang Ibu, ya Ibu adalah Lembaga Pendidikan pertama bagi setiap generasinya, bahkan pendidikan itu sudah terbina ketika anak tersebut masih dalam kandungan..


Dalam sejarah islam, orang-orang besar lahir di bawah bimbingan bijak para Ibu. Seorang Ulama, Hasan Muhammad Abu Al-Walid an-Naisabari menjadi ulama yang cerdas dan pintar karena ibunya mendoakannya saat kehamilannya, “ Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang pintar.”  Dan dikabulkanlah  permintaannya, Imam Bukhari menjadi Ulama dan Pakar hadist yang sukses berkat besarnya perhatian ibunya terhadap pendidikannya.

Keberhasilan seorang anak tidak pernah lepas dari pendidikan yang diberikan oleh Ibunya, Ibunya yang mengarahkannya, mengajarkannya, membimbingnya, mengiringi perkembangannya, dari anak tersebut masih dalam kandungan, hingga anak itu tumbuh dewasa.

Bahkan ketika anaknya sudah dewasa pun, seorang Ibu akan terus mendoakannya,menasihatinya, untuk selalu menjadi seorang muslim yang baik, seorang pemimpin yang cerdas, seorang  manusia yang senantiasa bermanfaat.

Teringat cerita tentang Abdullah bin Zubair sata ia masih kecil. Seperti biasa ia bermain bersama teman-temannya. Tiba2 tawa riang mereka berhenti seketika . Sunyi,senyap. Teman-temannya pergi. Ternyata Karena Umar yang sangar dan di takuti itu lewat. Anak-anak pun takut. Mereka berhamburan dan berlarian ketakutan. Namun Abdullah bi Zubair tetap diam di tempatnya.

Umar pun tertarik dan mendekat padanya, “ Mengapa engkau tidak ikut-ikutan berlari bersama teman-temanmu?” Tanya Umar penuh keheranan.

“Wahai Amirul Mukminin. Aku tidak berbuat salah,mengapa harus takut kepadamu? Lagipula jalan kan masih luas,tidak sempit, mengapa aku harus menyingkir dan meluaskannya untukmu?” jawab bocah belia ini. Mendengar jawaban bocah kecil ini, Umar pun kagum atas keberanian dan keterusterangannya. Benar-benar pemberani.

Siapa di balik keberanian Abdullah ini? Tidak lain adalah Ibunya Asama binti Abu Bakar. Asma adalah seorang wanita pemberani,putri sahabat nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq.

Terdapat juga kisah tentang remaja nan belia. Lelaki mulia. Usianya baru belasan tahun. Suatu hari saat masih remaja ia berkelana. Di tengah perjalanan itu, ia dihadang sekumpulan perampok. Para perampok itu menggertaknya. Mereka hendak merampas harta miliknya. Karena memang itulah tugas para perampok.

Nah, saat digertak oleh gerombolam perampok itu remaja ini bergeming,sama sekali tidak merinding. Tegak Berdiri gagah berani. Menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri.

“ Aku telah berjanji pada ibuku untuk selalu berlaku jujur. Aku tidak mau mengkhianati janjiku pada ibuku,” katanya pada perampok itu. “Aku membawa uang sebanyak 40 dinar.”

Mendengar jawaban jujur dan polos remaja tersebut,sang kepala perampok pun menangis. Ia mengatakan,” Engkau takut mengkhianati janjimu pada ibumu,, Tetapi mengapa aku tidak takut mengkhianati janjiku pada Allah?”

Subhanallah, Janji dan kejujuran pada sang ibu ini ternyata dengan seizin Allah bisa membuka hidayah dan kesadaran sekelompok perampok. Mereka pun kapok.

Lalu siapa pemuda Jujur tersebut? Dialah Abdul Qadir Al-Jailani. Namanya jaminan mutu. Prestasinya harum sepanjang waktu. Keberanian,kejujuran, dan kecerdasannya menjadi modal yang kekal. Dia berhasil mengantar ribuan orang masuk islam. Dia memang hebat,dahsyat, tapi siapakah yang lebih hebat, tentu saja Ibu yang mendidiknya.


“Di balik para pahlawan besar, ada wanita-wanita besar..”

Tentu semuanya tau siapa Khalid bin Walid, Dialah Mujahid legendaris yang membuat orang kafir miris.  Berkali-kali ia terlibat perang, dan totalitasnya selalu mengagumkan baik sebagai qiyadah (pemimpin) perang, maupun Jundi (prajurit) perang..

Lalu siapa dibalik kehebatan Khalid bin Walid?? Tentu saja ibunya.. Ketika Umar mendengar Khalid di penghujung usia, beliau mengakui eksistensi kepahlawanan dan keutamaan ibunya,  “ Seluruh wanita tidak mampu melahirkan anak seperti Khalid..” begitu komentar Umar.

Begitulah, “dibalik para pahlawan besar ada wanita-wanita besar”, dan kunci dari semuanya adalah Tarbiyah. Dan tarbiyah di tangan bijak seorang Ibu akan menjadi energy yang Dahsyat.

Teman-teman juga mungkin tidak asing dengan sosok  Khansa’ ibunda para Mujahid. Ia mengerahkan keempat putranya untuk ikhlas  berperang di medan perang. Ia yang menasihati keempat putanya bahwa kehidupan yang kekal hanya di akhirat, dan meyakinkan mereka bahwa Allah akan menyediakan pahala bagi  seorang muslim yang memerangi orang kafir.

Sehingga semua anaknya menjadi pejuang yang tangguh di medan perang, ketika saudara mereka terbunuh satu-persatu pun,mereka selalu teringat akan nasihat ibunya.. Sehingga rasa takut pun enggan menyelinap di hati mereka.

Khansa’ mengerahkan keempat anaknya untuk ikut mengangkat senjata dalam usaha mendapatkan tiket masuk Syurga. Khansa’ pun tidak tinggal diam, ikut berperang di medan perang dalam barisan wanita, yang merawat prajurit dan membawa makanan. Subhanallah..

Para pahlawan adalah orang-orang yang mampu menggali potensi dahsyat dari rumahnya,dari Ibunya. Merekalah Madrasah sebelum Madrasah lainnya. Al-Ummu madrasatun. Seorang Ibu adalah tempat sekolah bagi anak-anaknya sekaligus madrasah cinta para pahlawan

Napoleon Bonaparte pernah ditanya,” Benteng manakah di Prancis yang paling kuat?”   Ia menjawab,” Para ibu yang baik.”

Karena itu,, Barakallah ya Ummi, selamat wahai para Ibu. Di tangan mu lah generasi ini akan maju.  Ikhwatifillah, salah satu peran penting  dan kekuatan keluarga , khususnya seorang Ibu adalah,  mendidik generasi untuk menjadi asset dan investasi, baik di masa kini maupun dimasa nanti, akhirat nan abadi.

Kesuksesan pendidikan merupakan Saham riil bagi penyiapan kader-kader dakwah yang handal,membentuk keluarga islami, menciptakan lingkungan dan masyarakat yang penuh  dengan manusia-manusia berkualitas untuk mengaplikasikan islam dalam kehidupan.

Wahai saudariku Muslimah, begitu besar anugrah Allah yang diberikan atas kita, satu karunia yang tak terhingga nilainya. Berbahagialah,tersenyumlah, karena engkaulah sumber percikan cahaya peradaban. Engkaulah Madrasah Akhlak mulia. Engkaulah pengokoh kesempurnaan generasi. Engkaulah mata air bening syurgawi, pelepas dahaga jiwa, penyejuk kerinduan hati..

Ketiadaanmu adalah ketiadaan pengukuh semangat generasi, Kebaikanmu berarti kebaikan semesta, keburukanmu berarti kehancuran negrimu.

Jelas sudah, dari  rahim seorang ibulah lahir para pahlawan besar, dari didikan seorang Ibulah lahir para pejuang tangguh, dari  bimbingan seorang ibu lah lahir para ilmuwan-ilmuwan hebat.   Dari rumah sang anak belajar untuk jujur, dari rumah sang anak di didik untuk rajin belajar, dari rumah lah sang anak di ajarkan untuk cinta pendidikan, dan dari rumah lah sang anak dibina untuk benci kejahatan.

Ibu yang membangun karakter seorang anak dari awal, karakter yang akan menjadi arahan perkembangan  kepribadian seorang anak. Ibu yang akan memulai melatih pola pikir anak.

Dari lingkungan rumahnya sang anak  diajarkan untuk jadi seorang pemimpin, dilatih untuk berfikir kreatif, diajarkan untuk  disiplin.  Dari bimbingan seorang ibu sang anak akan rajin membaca Qu’an,  dari sentuhan nasihat  ibu lah sang anak  akan rajin beribadah, dari binaan seorang ibulah sang anak belajar menghafal Al-Qur’an..

Ya, Ibulah madrasah sebelum madrasah lainnya. Karena anak  lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bahkan pemilihan sekolah yang baik untuk sang anak pun, tak lepas pula dari pilihan seorang Ibu. Tapi tetap saja, pendidikan terbaik sepanjang masa untuk seorang anak ada di dalam rumahnya.

Karena itu, kebaikan seorang anak tercermin dari kehebatan seorang ibunya pula.  Apakah Ibunya mendidik atau membina sang anak dengan baik atau tidak. Apakah sang Ibu menjaga dan mengiringi  langsung pembentukan karakter sang anak, atau membiarkan pengasuh atau baby sitter yang akan mengambil peranan itu.

Wahai para calon Ibu, kita juga telah mengetahui bahwa anak adalah amanah dari Allah. Anak adalah titipan yang Allah berikan pada kita, dan suatu saat Allah akan mengambilnya kembali dari kita. Allah akan menilai keberhasilan kita dalam menjaga dan mendidik titipan-Nya itu.

Satu pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi Orang Tua yang baik untuk anak2nya. Dari sanalah akan terbentuk generasi Rabbani, dari sanalah akan tercipta cahaya-cahaya peradaban.. Ketika semuanya  sibuk  untuk menjadi seorang dokter, arsitek, dosen, pemimpin perusahaan, sadarkah semuanya bahwa  pekerjaan utama kita adalah menjadi orang tua untuk anak-anak kita.

Apalagi untuk seorang wanita, pekerjaan utama kita adalah menjadi seorang ibu yang mendidik  generasi-generasi penerus kita. Menjadi seorang dokter hanyalah pekerjaan sampingan saja (buat saya pribadi^^).. pekerjaan utama tetep saja menjadi seorang Ibu.

Tapi tetep saja, proses pembelajaran kita, kuliah kita, sekolah kita, sosialisasi kita, tetap dibutuhkan untuk bisa jadi seorang ibu yang baik. Justru karena kita akan menjadi ibu yang baiklah,kita pun harus banyak belajar. Karena anak yang berwawasan luas juga tercipta dari Ibu yang banyak memberinya wawasan dan membiasakan sang anak untuk selalu menambah wawasan..

Untuk itu, kita pun harus banyak mempersiapkan diri untuk itu, karena untuk menjadi madrasah akhlak yang baik untuk anak-anak kita tidak bisa kita peroleh dengan cara instan.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang hafidz Qur’an sedangkan kita sendiri  juz 30 saja masih ada yang belum hafal.

Bagaimana mungkin kita mau menjadikan anak kita anak Shaleh tetapi kita sendiri belum paham deskripsi anak shaleh itu apa.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita jadi anak yang jujur kalau kita sendiri  sering berbohong dan memalsukan keterangan.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang rajin dan cinta belajar sedangkan kita hanya duduk di depan televisi berjam-jam.

Bagaimana kita menginginkan  anak yang bisa jadi pemimpin hebat kalau untuk memimpin diri sendiri saja kita tidak bisa.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita disiplin tapi kita nggak membiasakan disiplin di rumah kita, kalau management waktu kita saja masih buruk.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita jadi anak cerdas kalau kita nya saja males untuk kuliah.

Bagaimana kita ingin anak kita cinta pada lingkungan kalau kita masih buang sampah sembarangan

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita terjaga izzah dan iffah nya sementara kita bergaul terlalu bebas dengan lawan jenis kita.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak kita mengasihi yang muda dan menghormati yang tua, kalau kita sendiri tidak pernah memberikan sentuhan kasih sayang kita pada mereka.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita mencintai hidup sederhana dan mengasihi fakir miskin kalau kita saja masih sering membeli barang yang tidak perlu dan terlalu mewah.

Bagaimana kita menginginkan anak kita mencintai dan menghormati kita kalau kita saja tidak berakhlak baik pada orang tua kita. Menanyakan kabarnya saja jarang.

Semua persiapan itu tidak instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  yang akhirnya membuat kita banyak belajar dan memahami itu. Karna untuk membentuk karakter yang baik, kita pun harus memiliki karakter yang baik.

Dan pembentukan karakter itu bukan suatu hal yang instan, perlu keinginan yang kuat dan continue untuk terus membentuk diri kita jadi madrasah utama tersebut. Masih banyak yang harus kita pelajari, masih banyak sikap yang harus kita latih, masih banyak yang harus kita biasakan. Karena suatu saat kita akan menjadi contoh pula bagi anak-anak kita.


Belajarlah dari Ummahat-ummahat terdahulu, belajarlah dari Ibunda para mujahid, Belajarlah dari Istri-istri Nabi yang Shalehah, belajar lah dari sahabat-sahabat Rasul, Belajar lah dari ibu2 yang sukses mengantarkan anaknya menjadi anak-anak yang hebat. Tentu mereka bukanlah wanita biasa. Belajar lah dari mana saja kita bisa belajar. Untuk mempersiapkan kematangan diri kita.

Jangan pernah malu untuk belajar. Jangan pernah merasa kalau ini hanya harus dilakukan oleh perempuan yang akan menikah. Karena pada dasarnya kita akan mengalami fase tersebut, InsyaAllah..

Semoga ketika kita berada di fase tersebut, kita sudah bisa menjadi seorang ibu yang siap pakai.  Bukan baru mulai belajar. Walaupun proses belajar itu sendiri pun akan berlangsung terus-menerus  seumur hidup..

Mudah-mudahan ketika ada di fase tersebut kita sudah disiapkan untuk menjadi madrasah akhlak yang baik. Karena pembinaan anak itu berlangsung bahkan sebelum anak tersebut lahir di dunia..


Semangat akhwat-akhwat Shalihah^^,, Allah telah menitipkan tugas mulia itu pada kita.  Kerjakanlah amanah itu dengan sebaik-baiknya.. Karena Kalianlah  Sumber percikan cahaya peradaban.. 🙂


Iklan

6 Tanggapan to "Ibu, madrasah Akhlak dan sumber percikan cahaya Peradaban.."

ibu, the women of heaven… ^^

semoga para calon ibu tetap pada koridor, pada jalur dalam mempersiapkan ke-ibuan nya..

pendidikan dimulai sejak dini dengan adanya peran besar seorang ibu

Bagus. Sangat indah penjelasannya.

Semoga menjadi para ibu yang mampu melahirkan calon pemimpin umat

Subhanalloh,, tulisan ini diunggah satu stengah tahun lalu dan blognya diupdate terakhir setahun lalu,, Semoga sekarang sudah Alloh pertemukan dengan “pasangan” yang sudah Alloh persiapkan dan semoga sekarang sudah Alloh percaya untuk menjadi “madrasah” untuk jundi titipan Alloh,, aamiin,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Assalamualaikum wrwb…

Ahlan wa Sahlan ya Akhi, ya ukhti... semoga bisa bermanfaat untuk semuanya^^

demi masa

Februari 2010
S S R K J S M
« Sep   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Nutrisi Jiwa

Allah tak pernah menjanjikan hari-hari kita berlalu tanpa sakit,berhias tawa tanpa kesedihan,senang tanpa kesulitan.. Tetapi Allah menjanjikan kekuatan kepada kita,untuk dapat melewatnya, selama kita ber-husnuzan kepadaNya..

Status

berusaha sabar dan ikhlas^^..
Iklan
%d blogger menyukai ini: