Najmulhayah's Blog

Posts Tagged ‘Ibu

Bismillahirrahmanirrahiim..

Tentu kita semua sudah banyak yg mengetahui, bagaimana perilaku atau sikap masyarakat terhadap kaum wanita pada zaman dahulu. Pada zaman sebelum islam datang, banyak sekali bangsa di dunia yang mendiskriminasi kaum wanita. Bertindah semena-mena, bahkan tidak memanusiakan wanita. Coba kita lihat contoh-contoh di bawah ini :

Wanita di mata Orang2 Yunani : mereka mengklaim kaum wanita sebagai najis dan kotoran dari hasil perbuatan syetan, bagi mereka, wanita sama rendahnya dgn barang jualan di pasar. Bisa di jual ke orang lain. Tidak boleh menggunakan hartanya sendiri.

Wanita dimata Orang2 romawi : Wanita tdk punya Ruh, Sering dituangkan minyak panas pada tubuhnya, dan diikat pada ekor kuda lalu dibawa lari sekencang-kencangnya.

Wanita di mata orang2 cina : mereka bebas menjual istrinya sebagaimana budak perempuan, dianggap barang peninggalan yg bisa diwarisi kalau suaminya meninggal.

Wanita di mata Orang Persia : saat sedang haid wanita di asingkan ke tempat yang jauh di luar kota, ga ada yg boleh menemuinya.

Wanita di mata Orang yahudi : ayah berhak menjual anak perempuannya, menganggap wanita sebagai laknat dan kutukan karena pernah menyesatkan nabi Adam.

Wanita di mata orang2 Arab :
Wanita tidak punya hak waris, ada makanan yg diharamkan hanya buat kaum wanita, tidak punya hak apapun dari suaminya, laki2 berhak poligami berapapun jumlahnya, Ibu tiri menjadi harta pusaka mendiang suaminya untuk anak2 suaminya, anak bisa meminta ibunya untuk jadi istrinya, sering menjadikan istrinya bahan taruhan.

Kalau seorang suami ingin punya anak yg hebat,ia akan menyerahkan istrinya untuk digauli oleh orang yg hebat. Jika seorang wanita ditinggal mati suaminya, maka dia harus berkabung selama setahun, tdk boleh bebersih, harus tampil kumal, dan di asingkan dlm suatu ruangan. Bahkan yg tidak asing lagi, banyak anak wanita yg dikubur hidup2 oleh orang tuanya, karena pada zaman tersebut masayarakat malu bila punya anak perempuan..

Beberapa hal di atas, juga tertera dlm beberapa surat dalam Al-Qur’an :


“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” ( Q.S An Nahl : 58-59)


“Dan mereka mengatakan: “Apa yg dlm perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yg dlm perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama2 boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” ( Al-An’am : 139 )

Sungguh bisa kita lihat, betapa kejamnya perlakuan masyarakat zaman dahulu, sebelum adanya islam. Saat kondisi tersebut terus berkembang, dan semakin banyak kaum wanita yang teraniaya, Islam datang untuk melepaskan wanita dari belenggu-belenggu kenistaan dan perbudakan terhadap sesama manusia.

Islam memandang wanita sebagai makhluk yg mulia dan terhormat. Makhluk yg memiliki beberapa hak yg disyariatkan Allah. Di dalam Islam haram hukumnya berbuat aniaya dan memperbudak wanita. Dan, Allah akan mengancam orang yg berani melakukan perbuatan itu dgn ancaman siksa yg sangat pedih.. (Subhanallah, Allah baik sekali ya sama kita.. 🙂  )

Islam memandang sama antara laki-laki dan perempuan, mereka sama-sama manusia, yg membedakan adalah keimanan.. kita bisa lihat dalam ayat berikut ini..


“Barang siapa yg mengerjakan amal2 shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yg beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” ( An Nisa : 124 )


Islam sama sekali tidak menganggap wanita sebagai suatu bakteri yg mengandung penyakit dan juga bukan berasal dari hasil perbuatan syetan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( Al Hujurat: 13)


Islam begitu memuliakan wanita, dalam islam, kemuliaan dan kehormatannya dijaga dengan ketat. kita bisa melihatnya pada beberapa ayat Al-Qur’an yang Allah turunkan.

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” ( An Nuur : 4 )

Dalam islam, perempuan juga mendapatkan hak waris, bukan barang yang diwariskan seperti pada masa jahiliyah. Islam juga mengatur tentang Perceraian agar tidak mendzolimi para wanita. Pada Zaman Jahiliyah, wanita yang sedang haid benar2 di jauhkan secara keseluruhan, tapi tidak dengan islam. Dalam Islam ia sama2 saja dgn wanita lain, tidak dikucilkan, dan punya hak yang sama untuk berinteraksi.

Islam juga mengajarkan untuk menyayangi istri dan menghormati Ibu. Bahkan Rasulullah sendiri sangat menekankan agar umatnya berbuat baik pada ibunya masing2. Seperti tertera pada hadist berikut :

“Sesungguhnya Allah mengharamkan kamu berani kepada para ibu, menolak kewajiban, meminta bukan haknya, dan mengubur hidup2 anak perempuan.

Sungguh, Islam itu layaknya pahlawan bagi para perempuan,
Umar Al-Faruq r.a mengatakan,

“ Demi Allah, pada zaman jahiliyah di mata kami wanita bukan apa-apa, sampai akhirnya Allah menurunkan apa yang harus Dia turunkan ttg mereka, dan membagikan apa yang harus Dia bagikan buat mereka “

Kita juga bisa menyimak, pengakuan salah seorang bangsa eropa bernama Guostav Loubon ttg pengaruh islam bagi kaum wanita :

“Sesungguhnya Islam telah memberikan pengaruh yg positive bagi peningkatan harkat kedudukan kaum wanita. Apa yg disumbangkan oleh islam itu jauh lebih banyak daripada apa yg diberikan oleh undang2 Eropa. Secara gamblang kita dapat melihat apa yg dilakukan islam dalam upayanya memperbaiki keadaan wanita di timur yg sebelum era Al-Qur’an nasib mereka sangat memilukan.”

Dengan adanya penghormatan terhadap wanita lah, akhirnya para wanita bangkit. Mereka menjadi sebagaimana manusia seharusnya. Mereka hadir sebagai sosok yang luar biasa. Mereka akhirnya memiliki hak untuk bisa turut berkarya. Mereka tumbuh sebagai sosok wanita sesuai yang di ajarkan islam. Patuh terhadap peraturan islam. Mereka pun memiliki hak untuk belajar.

Kita bisa lihat betapa banyak wanita-wanita hebat yang hadir zaman dahulu ketika datangnya Islam. Di mulai dari para Istri Rasulullah, putri beliau, para istri sahabat Nabi, dan banyak Shahabiyah lain pada zaman itu yang bersinar sebagai sosok wanita yg luar biasa.

Mereka menjadi backingan yang baik bagi suami mereka, sehingga suami mereka bisa berjuang dengan lebih optimal. Mereka menjadi pendidik bagi anak2 mereka. Sehingga anak2nya tumbuh dalam naungan Al-Qur’an. Mencetak kader2 dan mujahid-mujahidah yang tangguh. Memotivasi mereka untuk terus belajar,berjuang, dan bermanfaat.

Hingga saat itu bermunculanlah para pemimpin2 muslim yang Tangguh. Pada zaman tersebut, Islam bangkit, islam jaya, dengan wilayahnya yg semakin meluas, dengan umatnya yg semakin bertambah, dengan ilmuwan2nya yg bermunculan. Islam berhasil menguasai peradaban dunia. Menguasai bidang pendidikan, teknologi, Ekonomi,dan bidang2 lain.


Itu semua karena banyak tokoh2 hebat yg bermunculan. Dan tentu di balik setiap mereka, pasti ada minimal 2 orang wanita hebat, yaitu seorang Ibu yang mendidiknya dan seorang Istri yg senantiasa menyokong perjuangannya.

Bagaimana mungkin Ali bin Abi Thalib bisa menjadi pemimpin yang sederhana, jika siti Fatimah bukanlah seorang wanita yang qana’ah, jika siti Fatimah adalah wanita matre yg banyak tuntutannya.

Imam Syafii bisa menjadi Ulama besar dengan berbagai ilmu yg ia kuasai, karena sokongan ibunya agar ia terus mencari Ilmu, Ibunya yg mendorongnya untuk pergi ke tanah kelahiran nabi dan banyak mencari ilmu disana.

Bahkan Rasulullah pun bisa bertahan pada masa awal kenabiannya karena sokongan dari seorang istri yg luar biasa, yaitu Siti Khadijah.

Seorang laki-laki dengan idealism yang tinggi saat masih mahasiswa, Ia bisa kehilangan idealismenya ketika ia sudah berumah tangga, jika istrinya tidak bisa menjadi seorang partner yg baik. Seseorang yg anti korupsi pun, ada yang akhirnya terpaksa korupsi untuk membahagiakan keluarganya,karena Istri dan anaknya banyak yang menuntut.

Yah, Zaman dulu banyak bermunculan wanita2 hebat, sehingga muncul pula lah para laki2 hebat, yang akhirnya menjadikan islam berada pada puncak kejayaannya. Para wanita yang bangga dengan keislamannya. Para wanita yang memuliakan dirinya dengan aturan islam. Para Wanita yg menjadikan Al-Qur’an sebagai akhlaknya, menjadikan jilbab sebagai kehormatannya, dan senantiasa menjaga kemuliaan dirinya.


Hal tersebut membuat bangsa2 di Eropa gerah. Mereka tidak suka dengan kebangkitan agama Islam. Begitupun dengan bangsa yahudi. Mereka memiliki ambisi untuk menghancurkan kejayaan Islam. Mereka mengupayakan segala cara untuk bisa menjatuhkan islam. Hingga akhirnya mereka menyadari sesuatu yang menjadi kunci dari peradaban Islam. Yaitu WANITA..

Goldstone salah seorang Kristen mengatakan, “ Situasi timur tidak akan pernah tenang kalau hijab tidak segera direnggut dari wajah wanita kaum muslimin.”

Seorang Kristen lain bernama Zummer mengatakan, “Orang2 Nasrani tidak boleh putus asa. Sebab di dalam hati kaum muslimin benar2 telah berkembang kecenderungan yang cukup mencolok ke arah ilmu bangsa2 Eropa dan kepada kebebasan kaum wanitanya.”

Jean Paul Rou juga mengatakan, “ Sesungguhnya pengaruh barat yg terlihat di segala bidang dan dapat menguasai masyarakat islam memang lebih baik tidak perlu ditonjolkan. Biarlah yg menonjol gerakan kebebasan wanita.”

Itulah beberapa pernyataan dan rencana mereka yg busuk terhadap masalah wanita.


Ya, orang2 kafir merencanakan apapun, untuk bisa menghancurkan peradaban Islam, dan mereka membuat sasaran yang sangat tepat, yaitu Wanita.. Mereka kemudian dengan siasat yang licik, menggaungkan masalah Kebebasan Wanita. Dengan gencarnya mereka mempengaruhi para wanita, dimulai dengan cara yang halus.. Hingga tanpa para Wanita sadari, semua siasat mereka lambat laun mempengaruhi fikiran dan sikap para wanita Muslim.


Dimulai dari masalah Hijab, mereka berusaha menanamkan fikiran pada para wanita, bahwa hijab atau jilbab adalah suatu yang sangat mengekang kebebasan para wanita untuk berkarya. Masalah harta waris yang mereka keluhkan tidak adil,kemudian masalah poligami dalam islam yang mereka hasutkan bahwa itu sama saja menindas kaum wanita, masalah perbedaan hak wanita dan pria dalam bekerja atau berkarya di luar rumah, dan banyak masalah yang lain, yang mereka hasutkan pada diri dan fikiran para wanita muslim.

Mereka berupaya agar para wanita muslim, terpengaruh hingga akhirnya memberontak dari hukum Islam.

Kita bisa lihat beberapa hal yang mereka (orang kafir) atau kaum feminism berusaha tanamkan pada diri wanita muslim..


Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan di bawah ini :
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah, tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak. Dan memiliki hak bekerja atau berkarya di luar rumah yg lebih terbatas.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami, bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.
9. etc….

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA “

Coba, pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)?

Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.


Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anaknya.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya?

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : isteri, ibu, anak perempuan dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suami, ayah, anak lelaki dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu : shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat pada suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.

Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.

Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

Wanita yang memberi ASI kepada anaknya akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.
Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.

Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dianggap sebagai mati syahid.
Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo (2½ thn), maka malaikat-malaikat dilangit akan khabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.

Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka keatas tubuhnya.

Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang menutupi auratnya di dunia ini dengan istiqamah.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita ….kan?

Kita bisa lihat, bahwa semua yang Allah atur untuk semua Wanita Muslim, bukanlah untuk menindasnya, bukan untuk mengekangnya, tapi semata-mata untuk memuliakan kita sebagai seorang wanita. Semua yang Allah syaria’tkan, itu semata-mata untuk menjaga kita, menjaga kehormatan kita.


Tapi pada akhirnya, masih banyak para Wanita yang tidak menyadari itu dan terpengaruh oleh pemikiran2 yang digencarkan oleh Musuh-musuh Islam tersebut.

Ingat firman-Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka.

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.”
(At-Thariq 15-16 )

Maka kita, sebagai wanita Muslim,, Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukum/peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia.

Mereka, para musuh Islam, sengaja menjadikan para Wanita Muslim sebagai target utama mereka, mereka pertontonkan aurat wanita, mereka berikan gambaran2 yang mengundang syahwat bagi kaum laki-laki, sehingga para laki2 pun kehilangan produktivitasnya.. Mereka banyak memberi pengaruh buruk lewat Film, Fashion, dll..

Sehingga para wanita lupa akan peran utamanya.Mereka juga mempengaruhi para wanita untuk lebih senang bekerja di luar rumah daripada mendidik anak2nya di rumah. Mereka juga menanamkan fikiran bahwa kaum perempuan dan laki-laki harus memili hak yang sama untuk berkarya di luar rumah..


Padahal, kita bisa simak, pengakuan salah seorang Ilmuwan berkebangsaan Inggris bernama Samuel Simels, salah seorang yg menjadi sendi bagi kebangkitan negeri tersebut, dengan jujur pernah mengatakan :
“Sesungguhnya system yg mengatur supaya wanita sibuk bekerja di luar rumah atau di Industri2, sekalipun hal itu menjanjikan kesejahteraan, namun ia juga dpt berakibat merobohkan mahligai rumah tangga. Soalnya system itu menyerang langsung pada rangkanya, merobohkan pada sendi2 keluarga, mengoyak-ngoyak berbagai ikatan sosial, dan merampas istri dari suaminya, anak2 dari kaum kerabatnya..”

Itu karena indutstri2 tersebut justru membuat kaum wanita harus melepaskan kewajiban2 mulianya, mengorbankan anak2nya yg tumbuh tanpa sentuhan pendidikan dan perhatian yg menyebabkan mereka terlempar di sudut2 kesepian seraya kehausan akan kasih sayang seorang Ibu.

Kita bersama tau, bahwa Ibu adalah madrasah utama bagi anak2nya, Ibu yang membangun kepribadian dan karakter yg baik bagi anak2nya. Di balik para pejuang atau pahlawan yang hebat, ada seorang Ibu yang kuat. Dibalik para Ulama dan para Sahabat2 Rasul pada zaman dahulu, ada wanita2 hebat di belakang mereka, yang senantiasa membina mereka. Itu yang akhirnya menjadi kunci bangkitnya peradaban Islam saat itu.

Karena itu, cara ini, juga mereka, para musuh2 islam gencarkan pada para wanita muslim. Mreka ingin agar kita lebih senang bekerja daripada mendidik langsung anak2 kita. Dengan ini, banyak anak2 yang akan terjebak pergaulan bebas, yang broken home, yang ga diajarkan Al-Qur’an dari kecil, hingga zaman sekarang sedikit sekali anak2 yang bisa hafal Al-Qur’an. Padahal masa anak2 adalah masa paling mudah dalam menghafal.


Mereka ingin agar generasi2 penerus islam, tidak mendapatkan pendidikan yang layak atau pembinaan yg benar dari Ibunya. Sehingga tidak ada yg bisa meneruskan estafet bangkitnya peradaban islam. Terbukti sekarang, Islam tidak lagi memegang kunci peradaban dunia, banyak ilmuwan2 yang bermunculan bukan dari kalangan Islam. Roda ekonomi,politik, pendidikan, kesehatan, sudah tidak lagi di pegang oleh Islam, itulah bukti keberhasilan mereka dalam mempengaruhi kita.

Padahal kita bisa tahu betul, bagaimana hebatnya wanita2 yahudi mendidik anak2 mereka.. ibu2 yahudi sangat lihai dan fokus dlm mendidik anaknya untuk membenci rakyat palestina dan terbiasa membunuh dan menyakiti anak2 kecil yg lemah..

Coba, kita bisa bayangkan sebagaimana kuat tarbiyah ibunya pada anak2nya, sampai ketika dewasa, bangsa yahudi tidak memiliki kasihan sedikitpun saat menyakiti anak2 dan membunuhi orang2 palestina..

Sejak anaknya masih dalam kandungan mereka banyak belajar juga, agar anak2nya menjadi cerdas. Ketika anak2nya lahir, mereka focus mendidik mereka. Sehingga Kita bisa lihat, banyak sekali sektor2 kehidupan yang dikuasai orang2 yahudi sekarang.

Sudah selayaknya kita juga mnjadi Ibu yg lihai dan fokus dlm mendidik anak2 kita sehingga bisa mnjadi prajurit Mujahid dan Mujahidah Allah yg tangguh yg siap mempersembahkan hidupnya untuk bangkitnya kejayaan Islam.. Mengembalikan tonggak peradaban Islam. Kita juga harus bangkit, dan jangan mau kalah sama mereka.

Karena itu akhwat yang InsyaAllah selalu disayang Allah, kita sudah tau bagaimana dulu posisi wanita di masyarakat, dan kita juga sudah tau bagaimana derajat kita menjadi tinggi dan kedudukan kita menjadi luhur setelah datangnya Islam.. Kita sudah tau bagaimana Islam senantiasa menjaga dan memuliakan kita.. Bukankah kita dianggap makhluk2 yg hina dan diperbudak sebelum islam datang??

Apa kita akan mengikuti fatamorgana tersebut dan kembali mati kehausan setelah sebelumnya kita berlimpahan air??

Karena itu. Kuatkan keyakinan kita, jangan sampai kita terpengaruh oleh niat2 jahat mereka.. kita adalah Wanita,yang merupakan kunci dari sebuah kebangkitan peradaban, kunci dari lahirnya para Ulama dan Ilmuwan.. dan kita adalah Wanita Muslim,kunci dari bangkitnya kembali peradaban Islam.


Ketika mereka para musuh-musuh Islam menyadari kunci itu, menyadari potensi itu untuk menghancurkan islam, maka kita pun harus bangkit dan menyadari potensi itu, untuk meraih kembali masa kejayaan Islam..

Bagaimana caranya?? Kembalilah pada islam, bagaimana cara islam mengajarkan kita,bagaimana cara islam memposisikan wanita, dan bagaimana wanita seharusnya menurut islam.. Maka, kau akan menjadi wanita luar biasa, wanita yang dimuliakan, wanita yang menjadi tonggak peradaban, wanita yang dicinta dunia dan dirindu syurga..

Tunjukanlah pada dunia, pada mereka semua, pada musuh2 islam, bahwa :

“I’m a Women, and I’am a Muslimah..”

Dan katakana pada mereka,,
“Saya yakin pd aturan Islam terhadap saya, karena saya yakin itu semua Allah berikan untuk menjaga dan memuliakan saya,,karenanya percuma saja kalian mau mempengaruhi fikiran saya, krn bagaimana mungkin saya akan mengikuti fatamorgana kalian dan terjebak dlm nikmat sesaat yg berakhirat derita,jika islam telah mengangkat derajat saya dan menjanjikan sesuatu yang lebih indah untuk saya dan muslimah-muslimah yang lainnya.. ”

Wallahua’lam bishawab…

Iklan

Bismillahirrahmanirrahiim…


Sayyid Qutb mengatakan,

“Saya percaya kekuatan ilmu,juga yakin dengan kekuatan pengetahuan,namun jauh lebih percaya dengan kekuatan Tarbiyah(pendidikan)”

Iya, kekuatan terbesar untuk  mencapai  kesuksesan adalah pendidikan, kekuatan terbesar untuk menjadikan suatu bangsa yang Madani adalah pendidikan, dan kekuatan besar yang bisa membentuk peradaban islam yang di hormati dan di agungkan adalah yang kita sebut dengan pendidikan..

Karena Pendidikan lah Ibnu Sina, Ar-Razi, dan ilmuwan-ilmuwan muslim lain di beberapa abad lalu meninggikan martabat agama Islam. Karena usaha keras mereka lah nama Islam dikenal sebagai agama yang Rahmatan lil alamin.. Karya-karyanya tersebar di berbagai pelosok dunia, untuk diaplikasikan maupun dijadikan sarana Pendidikan.. Karena perjuangan mereka lah Islam berada pada masa Kegemilangannya saat itu..


“Seorang wanita (ibu)  adalah lembaga pendidikan, yang jika ia benar2 mempersiapkan dirinya, berarti  ia telah memepersiapkan sebuah generasi  yang benar2 digdaya” (Ahmad Syauqi)

“ Seorang Ibu adalah sekolah apabila engkau persiapkan dengan baik berarti engkau telah mempersiapkan generasi yang harum” (Syair Hafizh Ibrahim)

Lalu,sadarkah kita bahwa Madrasah utama, Guru terbaik, Pendidik pertama bagi seorang anak adalah seorang Ibu, ya Ibu adalah Lembaga Pendidikan pertama bagi setiap generasinya, bahkan pendidikan itu sudah terbina ketika anak tersebut masih dalam kandungan..


Dalam sejarah islam, orang-orang besar lahir di bawah bimbingan bijak para Ibu. Seorang Ulama, Hasan Muhammad Abu Al-Walid an-Naisabari menjadi ulama yang cerdas dan pintar karena ibunya mendoakannya saat kehamilannya, “ Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang pintar.”  Dan dikabulkanlah  permintaannya, Imam Bukhari menjadi Ulama dan Pakar hadist yang sukses berkat besarnya perhatian ibunya terhadap pendidikannya.

Keberhasilan seorang anak tidak pernah lepas dari pendidikan yang diberikan oleh Ibunya, Ibunya yang mengarahkannya, mengajarkannya, membimbingnya, mengiringi perkembangannya, dari anak tersebut masih dalam kandungan, hingga anak itu tumbuh dewasa.

Bahkan ketika anaknya sudah dewasa pun, seorang Ibu akan terus mendoakannya,menasihatinya, untuk selalu menjadi seorang muslim yang baik, seorang pemimpin yang cerdas, seorang  manusia yang senantiasa bermanfaat.

Teringat cerita tentang Abdullah bin Zubair sata ia masih kecil. Seperti biasa ia bermain bersama teman-temannya. Tiba2 tawa riang mereka berhenti seketika . Sunyi,senyap. Teman-temannya pergi. Ternyata Karena Umar yang sangar dan di takuti itu lewat. Anak-anak pun takut. Mereka berhamburan dan berlarian ketakutan. Namun Abdullah bi Zubair tetap diam di tempatnya.

Umar pun tertarik dan mendekat padanya, “ Mengapa engkau tidak ikut-ikutan berlari bersama teman-temanmu?” Tanya Umar penuh keheranan.

“Wahai Amirul Mukminin. Aku tidak berbuat salah,mengapa harus takut kepadamu? Lagipula jalan kan masih luas,tidak sempit, mengapa aku harus menyingkir dan meluaskannya untukmu?” jawab bocah belia ini. Mendengar jawaban bocah kecil ini, Umar pun kagum atas keberanian dan keterusterangannya. Benar-benar pemberani.

Siapa di balik keberanian Abdullah ini? Tidak lain adalah Ibunya Asama binti Abu Bakar. Asma adalah seorang wanita pemberani,putri sahabat nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq.

Terdapat juga kisah tentang remaja nan belia. Lelaki mulia. Usianya baru belasan tahun. Suatu hari saat masih remaja ia berkelana. Di tengah perjalanan itu, ia dihadang sekumpulan perampok. Para perampok itu menggertaknya. Mereka hendak merampas harta miliknya. Karena memang itulah tugas para perampok.

Nah, saat digertak oleh gerombolam perampok itu remaja ini bergeming,sama sekali tidak merinding. Tegak Berdiri gagah berani. Menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri.

“ Aku telah berjanji pada ibuku untuk selalu berlaku jujur. Aku tidak mau mengkhianati janjiku pada ibuku,” katanya pada perampok itu. “Aku membawa uang sebanyak 40 dinar.”

Mendengar jawaban jujur dan polos remaja tersebut,sang kepala perampok pun menangis. Ia mengatakan,” Engkau takut mengkhianati janjimu pada ibumu,, Tetapi mengapa aku tidak takut mengkhianati janjiku pada Allah?”

Subhanallah, Janji dan kejujuran pada sang ibu ini ternyata dengan seizin Allah bisa membuka hidayah dan kesadaran sekelompok perampok. Mereka pun kapok.

Lalu siapa pemuda Jujur tersebut? Dialah Abdul Qadir Al-Jailani. Namanya jaminan mutu. Prestasinya harum sepanjang waktu. Keberanian,kejujuran, dan kecerdasannya menjadi modal yang kekal. Dia berhasil mengantar ribuan orang masuk islam. Dia memang hebat,dahsyat, tapi siapakah yang lebih hebat, tentu saja Ibu yang mendidiknya.


“Di balik para pahlawan besar, ada wanita-wanita besar..”

Tentu semuanya tau siapa Khalid bin Walid, Dialah Mujahid legendaris yang membuat orang kafir miris.  Berkali-kali ia terlibat perang, dan totalitasnya selalu mengagumkan baik sebagai qiyadah (pemimpin) perang, maupun Jundi (prajurit) perang..

Lalu siapa dibalik kehebatan Khalid bin Walid?? Tentu saja ibunya.. Ketika Umar mendengar Khalid di penghujung usia, beliau mengakui eksistensi kepahlawanan dan keutamaan ibunya,  “ Seluruh wanita tidak mampu melahirkan anak seperti Khalid..” begitu komentar Umar.

Begitulah, “dibalik para pahlawan besar ada wanita-wanita besar”, dan kunci dari semuanya adalah Tarbiyah. Dan tarbiyah di tangan bijak seorang Ibu akan menjadi energy yang Dahsyat.

Teman-teman juga mungkin tidak asing dengan sosok  Khansa’ ibunda para Mujahid. Ia mengerahkan keempat putranya untuk ikhlas  berperang di medan perang. Ia yang menasihati keempat putanya bahwa kehidupan yang kekal hanya di akhirat, dan meyakinkan mereka bahwa Allah akan menyediakan pahala bagi  seorang muslim yang memerangi orang kafir.

Sehingga semua anaknya menjadi pejuang yang tangguh di medan perang, ketika saudara mereka terbunuh satu-persatu pun,mereka selalu teringat akan nasihat ibunya.. Sehingga rasa takut pun enggan menyelinap di hati mereka.

Khansa’ mengerahkan keempat anaknya untuk ikut mengangkat senjata dalam usaha mendapatkan tiket masuk Syurga. Khansa’ pun tidak tinggal diam, ikut berperang di medan perang dalam barisan wanita, yang merawat prajurit dan membawa makanan. Subhanallah..

Para pahlawan adalah orang-orang yang mampu menggali potensi dahsyat dari rumahnya,dari Ibunya. Merekalah Madrasah sebelum Madrasah lainnya. Al-Ummu madrasatun. Seorang Ibu adalah tempat sekolah bagi anak-anaknya sekaligus madrasah cinta para pahlawan

Napoleon Bonaparte pernah ditanya,” Benteng manakah di Prancis yang paling kuat?”   Ia menjawab,” Para ibu yang baik.”

Karena itu,, Barakallah ya Ummi, selamat wahai para Ibu. Di tangan mu lah generasi ini akan maju.  Ikhwatifillah, salah satu peran penting  dan kekuatan keluarga , khususnya seorang Ibu adalah,  mendidik generasi untuk menjadi asset dan investasi, baik di masa kini maupun dimasa nanti, akhirat nan abadi.

Kesuksesan pendidikan merupakan Saham riil bagi penyiapan kader-kader dakwah yang handal,membentuk keluarga islami, menciptakan lingkungan dan masyarakat yang penuh  dengan manusia-manusia berkualitas untuk mengaplikasikan islam dalam kehidupan.

Wahai saudariku Muslimah, begitu besar anugrah Allah yang diberikan atas kita, satu karunia yang tak terhingga nilainya. Berbahagialah,tersenyumlah, karena engkaulah sumber percikan cahaya peradaban. Engkaulah Madrasah Akhlak mulia. Engkaulah pengokoh kesempurnaan generasi. Engkaulah mata air bening syurgawi, pelepas dahaga jiwa, penyejuk kerinduan hati..

Ketiadaanmu adalah ketiadaan pengukuh semangat generasi, Kebaikanmu berarti kebaikan semesta, keburukanmu berarti kehancuran negrimu.

Jelas sudah, dari  rahim seorang ibulah lahir para pahlawan besar, dari didikan seorang Ibulah lahir para pejuang tangguh, dari  bimbingan seorang ibu lah lahir para ilmuwan-ilmuwan hebat.   Dari rumah sang anak belajar untuk jujur, dari rumah sang anak di didik untuk rajin belajar, dari rumah lah sang anak di ajarkan untuk cinta pendidikan, dan dari rumah lah sang anak dibina untuk benci kejahatan.

Ibu yang membangun karakter seorang anak dari awal, karakter yang akan menjadi arahan perkembangan  kepribadian seorang anak. Ibu yang akan memulai melatih pola pikir anak.

Dari lingkungan rumahnya sang anak  diajarkan untuk jadi seorang pemimpin, dilatih untuk berfikir kreatif, diajarkan untuk  disiplin.  Dari bimbingan seorang ibu sang anak akan rajin membaca Qu’an,  dari sentuhan nasihat  ibu lah sang anak  akan rajin beribadah, dari binaan seorang ibulah sang anak belajar menghafal Al-Qur’an..

Ya, Ibulah madrasah sebelum madrasah lainnya. Karena anak  lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bahkan pemilihan sekolah yang baik untuk sang anak pun, tak lepas pula dari pilihan seorang Ibu. Tapi tetap saja, pendidikan terbaik sepanjang masa untuk seorang anak ada di dalam rumahnya.

Karena itu, kebaikan seorang anak tercermin dari kehebatan seorang ibunya pula.  Apakah Ibunya mendidik atau membina sang anak dengan baik atau tidak. Apakah sang Ibu menjaga dan mengiringi  langsung pembentukan karakter sang anak, atau membiarkan pengasuh atau baby sitter yang akan mengambil peranan itu.

Wahai para calon Ibu, kita juga telah mengetahui bahwa anak adalah amanah dari Allah. Anak adalah titipan yang Allah berikan pada kita, dan suatu saat Allah akan mengambilnya kembali dari kita. Allah akan menilai keberhasilan kita dalam menjaga dan mendidik titipan-Nya itu.

Satu pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi Orang Tua yang baik untuk anak2nya. Dari sanalah akan terbentuk generasi Rabbani, dari sanalah akan tercipta cahaya-cahaya peradaban.. Ketika semuanya  sibuk  untuk menjadi seorang dokter, arsitek, dosen, pemimpin perusahaan, sadarkah semuanya bahwa  pekerjaan utama kita adalah menjadi orang tua untuk anak-anak kita.

Apalagi untuk seorang wanita, pekerjaan utama kita adalah menjadi seorang ibu yang mendidik  generasi-generasi penerus kita. Menjadi seorang dokter hanyalah pekerjaan sampingan saja (buat saya pribadi^^).. pekerjaan utama tetep saja menjadi seorang Ibu.

Tapi tetep saja, proses pembelajaran kita, kuliah kita, sekolah kita, sosialisasi kita, tetap dibutuhkan untuk bisa jadi seorang ibu yang baik. Justru karena kita akan menjadi ibu yang baiklah,kita pun harus banyak belajar. Karena anak yang berwawasan luas juga tercipta dari Ibu yang banyak memberinya wawasan dan membiasakan sang anak untuk selalu menambah wawasan..

Untuk itu, kita pun harus banyak mempersiapkan diri untuk itu, karena untuk menjadi madrasah akhlak yang baik untuk anak-anak kita tidak bisa kita peroleh dengan cara instan.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang hafidz Qur’an sedangkan kita sendiri  juz 30 saja masih ada yang belum hafal.

Bagaimana mungkin kita mau menjadikan anak kita anak Shaleh tetapi kita sendiri belum paham deskripsi anak shaleh itu apa.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita jadi anak yang jujur kalau kita sendiri  sering berbohong dan memalsukan keterangan.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang rajin dan cinta belajar sedangkan kita hanya duduk di depan televisi berjam-jam.

Bagaimana kita menginginkan  anak yang bisa jadi pemimpin hebat kalau untuk memimpin diri sendiri saja kita tidak bisa.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita disiplin tapi kita nggak membiasakan disiplin di rumah kita, kalau management waktu kita saja masih buruk.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita jadi anak cerdas kalau kita nya saja males untuk kuliah.

Bagaimana kita ingin anak kita cinta pada lingkungan kalau kita masih buang sampah sembarangan

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita terjaga izzah dan iffah nya sementara kita bergaul terlalu bebas dengan lawan jenis kita.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak kita mengasihi yang muda dan menghormati yang tua, kalau kita sendiri tidak pernah memberikan sentuhan kasih sayang kita pada mereka.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita mencintai hidup sederhana dan mengasihi fakir miskin kalau kita saja masih sering membeli barang yang tidak perlu dan terlalu mewah.

Bagaimana kita menginginkan anak kita mencintai dan menghormati kita kalau kita saja tidak berakhlak baik pada orang tua kita. Menanyakan kabarnya saja jarang.

Semua persiapan itu tidak instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  yang akhirnya membuat kita banyak belajar dan memahami itu. Karna untuk membentuk karakter yang baik, kita pun harus memiliki karakter yang baik.

Dan pembentukan karakter itu bukan suatu hal yang instan, perlu keinginan yang kuat dan continue untuk terus membentuk diri kita jadi madrasah utama tersebut. Masih banyak yang harus kita pelajari, masih banyak sikap yang harus kita latih, masih banyak yang harus kita biasakan. Karena suatu saat kita akan menjadi contoh pula bagi anak-anak kita.


Belajarlah dari Ummahat-ummahat terdahulu, belajarlah dari Ibunda para mujahid, Belajarlah dari Istri-istri Nabi yang Shalehah, belajar lah dari sahabat-sahabat Rasul, Belajar lah dari ibu2 yang sukses mengantarkan anaknya menjadi anak-anak yang hebat. Tentu mereka bukanlah wanita biasa. Belajar lah dari mana saja kita bisa belajar. Untuk mempersiapkan kematangan diri kita.

Jangan pernah malu untuk belajar. Jangan pernah merasa kalau ini hanya harus dilakukan oleh perempuan yang akan menikah. Karena pada dasarnya kita akan mengalami fase tersebut, InsyaAllah..

Semoga ketika kita berada di fase tersebut, kita sudah bisa menjadi seorang ibu yang siap pakai.  Bukan baru mulai belajar. Walaupun proses belajar itu sendiri pun akan berlangsung terus-menerus  seumur hidup..

Mudah-mudahan ketika ada di fase tersebut kita sudah disiapkan untuk menjadi madrasah akhlak yang baik. Karena pembinaan anak itu berlangsung bahkan sebelum anak tersebut lahir di dunia..


Semangat akhwat-akhwat Shalihah^^,, Allah telah menitipkan tugas mulia itu pada kita.  Kerjakanlah amanah itu dengan sebaik-baiknya.. Karena Kalianlah  Sumber percikan cahaya peradaban.. 🙂


Dikutib dari Majalah Kompas tulisan saudari, Dewi Lestari

Hidup dalam era keluh kesah bukan hal yang mudah. Saat semua yang membombardir kita adalah berita buruk, kritik, hujatan, atau justru berita dangkal, takhayul, dan dongeng hitam-putih.

Pemberdayaan, keceriaan, dan persahabatan, menjadi barang langka saat mata uang yang laku adalah derita. Kita menanti tangan raksasa, pemerintah atau pemimpin impian, untuk membebaskan kita dari jerat kemelut. Penantian panjang yang lambat laun bermutasi menjadi budaya sistemik akhirnya secara nyata mengambil kendali dari tangan kita, menjadikan kita si pengeluh-pemimpi-tak berdaya.

Bila diamati, perubahan yang kebanyakan dari kita inginkan bermuara pada hal-hal yang terdengar mendasar, bahkan naif, yakni: damai, bahagia, sehat. Baik yang paling miskin dan yang paling kaya mengaku sama-sama mendamba tiga hal tersebut.

Namun seringkali kata-kata itu terjerat pada level konsep, terkubur jauh dalam lapisan artifisial, dan terpoles glazur tebal hingga kita akrab mendengar tapi jarang, bahkan tak pernah merasakannya. Entah kita tak tahu caranya, atau kita tak serius menginginkannya.

Beberapa data menarik dari ECOSOC pada tahun 1998 mengungkap bahwa dana pendidikan yang dialokasikan seluruh pemerintah dunia sejumlah US$ 6 miliar. Angka ini kalah dibanding penjualan parfum di Eropa yang mencapai US$ 8 miliar. Pengeluaran untuk air dan sanitasi seluruh umat dunia sejumlah 9 miliar USD, lebih kecil ketimbang penjualan es krim di Eropa yang sampai 11 miliar dolar Amerika.

Lalu, pakan binatang peliharaan di Amerika dan Eropa (17 miliar USD) ternyata lebih mahal dibanding dana kesehatan seluruh pemerintah di dunia yang cuma 13 miliar USD. Bandingkan lagi dengan perdagangan narkoba di dunia yang mencapai 400 miliar dolar Amerika, juga dana militer dunia yang menyedot 780 miliar dolar Amerika.

Di Indonesia, kebanyakan nelayan tidak berperahu, sementara segelintir rakyatnya berkesempatan mengoleksi mobil sejumlah lebih dari yang dibutuhkan. Anak-anak Indonesia hanya 46,8% saja yang dapat menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar, sementara segelintir rakyatnya dapat mengoleksi busana dan aksesoris dengan dana yang mampu mengantar satu anak sekolah hingga tamat lulus S1.

Inilah cermin yang merefleksikan prioritas kita. Inilah kondisi global yang menjadi tantangan bagi semua umat dunia. Disparitas yang diungkap di atas bukan lagi barang baru. Kita paham konsep kesenjangan sosial, kita melihatnya setiap hari hingga lama-lama mata kita terbiasa.

Kita paham bahwa jika itu terus dibiarkan, akan ada polaritas ekstrem yang otomatis menimbulkan friksi, perpecahan, dan segala hal yang berusaha kita hindari. Lalu, kita bungkus lamunan utopis kita tentang perdamaian dan keadilan dunia dalam indahnya melodi, lirik lagu, puisi, tapi tidak pernah kita benar-benar berusaha mewujudkannya. Inilah titik tolak untuk sama-sama mengevaluasi pilihan-pilihan hidup kita, dan merenungi: adakah kita miliki kekuatan itu?

Seorang filsuf perempuan Simone de Beauvoir mengatakan “yang personal adalah politis”. Jika masyarakat terbius dengan konsep bahwa lokomotif perubahan haruslah pemerintah, lembaga besar, atau perusahaan multinasional raksasa, maka perubahan akan mengikuti gaya birokrat yang lambat, atau gaya korporat yang melulu beragendakan profit.

Seorang walikota di Jawa Tengah pernah mengeluhkan tentang birokrasi yang menghambatnya untuk berinvestasi pada sistem pengolahan sampah kota. Butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan untuk ide bergulir sampai jadi realitas. Sementara seorang ibu rumah tangga dengan hitungan jam dapat langsung mengubah sistem pengolahan sampah di rumahnya dengan membuat kompos sendiri.

Satu contoh besar pernah dilakukan oleh mantan presiden Chekoslovakia, Vaclav Havel. Dia pernah memimpin bangsanya melewati masa krisis akibat sistem yang tak adil lewat gerakan pembangkangan bermodalkan kemanusiaan.

Pengalamannya membuktikan bahwa dorongan politik lebih efektif jika datang dari ibu rumah tangga, pekerja biasa, filsuf, penulis, dokter, dan seterusnya, ketimbang dari para politisi. Hal itu dimungkinkan justru karena masyarakat biasa tidak terikat pada pemikiran politik konvensional.

Gerakan ‘chipko’ atau ‘tree-huggers’ yang dipelopori oleh para perempuan pada tahun 1980-an pernah menyelamatkan ribuan pohon di Himalaya. Mereka menunjukkan perlawanannya dengan memeluk pohon-pohon yang akan ditebang.

Ada juga Vandana Shiva, seorang ahli fisika dan feminis India, yang berhasil melawan pertanian eksploitatif korporasi dengan menggerakkan petani untuk kembali ke praktek pertanian yang bersahabat dengan bumi. Kasus makanan berformalin terakselerasi begitu ibu-ibu rumah tangga stop membeli, lalu pedagang panik, pasar panik, dan akhirnya regulasi formalin mulai dikaji lebih serius.

Kelumit-kelumit realitas tadi dapat mengubah posisi gerbong kereta perubahan. Lokomotif berkekuatan besar justru unit rumah tangga yang kecil. Ibu rumah tangga sebagai penentu mekanisme sehari-hari otomatis mendominasi kendali atas produk yang dikonsumsi, anggaran bulanan, jenis informasi yang beredar di rumah, tata cara pengolahan ini-itu, dan seterusnya.

Jika kekuatan memilih itu disadari penuh, maka pemberdayaan akan kembali ke tangan masyarakat. Perubahan dapat terjadi dalam hitungan hari, tanpa birokrasi berbelit dengan kecepatan siput.

Kita memiliki daftar protes terhadap kondisi dunia, tanpa selalu sadar bahwa kita punya kekuatan untuk mengubahnya. Jika kita resah dengan krisis ekologi dan hutan tropis kita yang tak habis-habis dirambahi, tanamlah setidaknya satu pohon baru di pekarangan.

Pemerintah mungkin akan butuh tahunan untuk mengadakan sepuluh juta pohon sekaligus, tapi rakyatnya dapat berbuat sama dalam waktu singkat. Jika kita resah dengan masalah sampah yang bikin banjir, olahlah sampah rumah tangga mulai besok.

Jika kita muak dengan informasi dan hiburan yang tidak mendidik, matikan teve dan hanya tonton yang betul-betul perlu. Jika ingin rakyat cerdas, korbankan satu kebutuhan tersier kita untuk menjadi biaya sekolah satu anak asuh. Jika kita benci korupsi, hentikan segala perbuatan curang di rumah. Jika kita benci perang, stop dan cegah kekerasan di rumah.

Tanpa sepenuhnya disadari, kekuatan untuk mengubah wajah dunia ternyata ada di rumah kita. Keputusan kita untuk memilih makanan, minuman, tempat belanja, prioritas keuangan, dan seterusnya, adalah keputusan politis yang bisa menentukan jutaan nasib manusia.

Keputusan kita untuk memilih antara beras impor atau beras lokal, buah impor atau buah lokal, dapat menyelamatkan pendapatan para petani Indonesia. Keputusan kita untuk memilih satu lagi tas bermerk untuk menemani sepuluh tas yang ada atau mendonasikan uang untuk biaya sekolah satu anak, akan membawa perbedaan besar.

Tantangan paling besar tentunya adalah keinginan melihat efek yang instan dari tindakan kita. Juga skeptisisme bahwa hal kecil yang kita lakukan betul-betul punya dampak. Begitu pula sikap eskapis yang menggoda kita untuk ‘membuang’ kendali itu dengan misalnya berkata ‘tidak semua ibu punya kapasitas berpikir yang sama jadi lupakan saja. Dan, lagi-lagi pemberdayaan itu kabur dari tangan kita.

Tidak ada lagi saat yang paling tepat untuk para ibu mengambil peran sebagai lokomotif perubahan dan penjaga kehidupan. Saat masyarakat merasa kehilangan daya, sesungguhnya kekuatan menanti pada perspektif yang berganti, siapakah yang sesungguhnya punya potensi dahsyat untuk menjadi lokomotif perubahan: pemerintah berlembaga atau ibu berkeranjang belanja?

Selama kita sungguh-sungguh menginginkan perubahan itu terwujud, bukan hanya sebatas gincu di mulut, selamanya pula saya memilih yang kedua.

Membaca tulisan tersebut,jadi teringat kembali akan perkataan Ahmad Syauqi bahwa “Seorang Ibu adalah lembaga pendidikan,yg jika ia benar2 mempersiapkan dirinya,berarti ia telah mempersiapkan sebuah generasi yg benar2 digdaya.”

Ibu adalah madrasah utama buat anak2nya, karena itu seorang ibu pun harus punya ilmu dan pendidikan yang cukup untuk bisa membimbing anaknya menuju gerbang kesuksesan. Menjadikan mereka pembela agama Allah, mujahid dan mujahadah tangguh, yang bisa banyak berkontribusi untuk  keluarga,bangsa dan agama.

Karena tanpa kita sadari, Ibulah yang akan membentuk pola pikir anak, yang akan membentuk pribadi si anak, karena di Rumah lah sang anak banyak mendapatkan pelajaran. Itu juga yang mengakibatkan di anjurkannya para Ibu untuk bisa mendidik sendiri anak-anaknya, tidak membiarkan masa kecil anaknya di bawah asuhan baby sitter,yang notabene tidak banyak paham bagaimana membentuk karakter yang baik.

Seperti kita ketahui, anak2 lah generasi penerus yang akan memimpin bangsa ini kelak, karena itu,mereka pun harus dipersiapkan dengan matang. Jangan sampai mereka lebih banyak terpengaruh oleh lingkungan saat ini yang keras dan tidak bermoral.

Perubahan bisa terjadi dari manapun, melalui apapun, dan kita sebagai calon ibu, juga akan sangat memegang peranan penting untuk itu. Karena di belakang laki-laki hebat akan ada seorang perempuan yg tangguh. Di balik para pejuang hebat,akan selalu ada seorang ibu yang mendidik mereka dengan baik hingga bisa jadi manusia yang selalu memberi  manfaat untuk umat dan berani berjuang demi tegaknya islam dan kebenaran.

yakinlah,kita bisa menjadi wanita tangguh itu. Tapi untuk itu,tentu tidak mudah, banyak persiapan yang harus kita hadapi, masih banyak yang harus kita persiapkan,ilmu yang harus kita gali..Hidup adalah pilihan, pilihan untuk jadi manusia biasa, dgn perjuangan yang biasa dan hasil yang biasa, atau menjadi manusia yang berjuang keras,dan memberikan banyak kebermanfaatan dan menjadi manusia yang di Ridhai  oleh Allah.

Semangat buat para Calon Ibu,, yakinkan diri kita untuk bisa jadi Super Women, super parent dan super Manager^^(iya ga panitia ZS?? 🙂 ) ,, Perubahan itu tidak harus dimulai dari lingkup yang besar, ketika itu susah terwujud, yakinlah bahwa perubahan itu bisa bermula dari hal yang sederhana, yaitu rumah kita sendiri^^..

Wallahua’lam..


Assalamualaikum wrwb…

Ahlan wa Sahlan ya Akhi, ya ukhti... semoga bisa bermanfaat untuk semuanya^^

demi masa

Agustus 2018
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Nutrisi Jiwa

Allah tak pernah menjanjikan hari-hari kita berlalu tanpa sakit,berhias tawa tanpa kesedihan,senang tanpa kesulitan.. Tetapi Allah menjanjikan kekuatan kepada kita,untuk dapat melewatnya, selama kita ber-husnuzan kepadaNya..

Status

berusaha sabar dan ikhlas^^..
Iklan