Najmulhayah's Blog


Bertasbihlah cinta, terukir di hatiku..

Seindah samudera senja berkilau membentang..

Cinta yang sejati, yg tersandar di hati..

Berlabuh menepi satukan karena Ilahi..

Alam penuh doa menawar rindu kasih..

Munajatkan Maha Cinta di atas cinta..

Jika memang takdir cinta pasti bertemu..

Walau kau dan aku ada di ujung dunia..

Ketika cinta bertasbih,bagai cahya tak bertepi..

Anugerah terindah itu yg kuimpikan..

Harapan kutambatkan disetiap sujud malamku..

Tuhan bimbing cintaku, cinta karena Ilahi..

(Ketika Cinta Bertasbih)

Untuk seseorang yang belum pernah terbayang wajahnya,

yang belum  aku tau sikapnya,

belum aku rasakan kasih sayangnya,

Ya Allah,, semoga  Engkau selalu melindunginya, dan menjadikan apa yang terjadi pada kami nanti  tetap sebagai bentuk rasa Cinta kami pada- Mu..  Semoga ayat-ayat cinta yang tertera dalam kitab suci  Al-Qur’an itu selalu melindungi kami dari fatamorgana dunia ini..

Ya Allah, bimbing selalu langkahnya, mudahkanlah rizkinya, dan  jadikanlah dia  hamba-Mu yang shalih.. yang bersamanya aku akan mencetak para kader dakwah terbaik yang siap berjuang di jalan-Mu ini ya Allah..

Jaga dia ya Allah, jaga dia dari godaan nikmat dunia, jaga dia dari kelalaian dan kemalasan. Jaga dia dari syaitan yang berwujud manusia..

Jadikanlah dia hamba-Mu yang taat, hamba-Mu yang sabar..

Jadikanlah dia Murabbi yang terbaik untukku dan anak2ku kelak,

Jadikanlah dia Murabbi yang baik untuk keluarga,teman dan masyarakat..

Amiin.. 🙂


Iklan

Click to view my Personality Profile page

Bismillahirrahmanirrahiim…


Sayyid Qutb mengatakan,

“Saya percaya kekuatan ilmu,juga yakin dengan kekuatan pengetahuan,namun jauh lebih percaya dengan kekuatan Tarbiyah(pendidikan)”

Iya, kekuatan terbesar untuk  mencapai  kesuksesan adalah pendidikan, kekuatan terbesar untuk menjadikan suatu bangsa yang Madani adalah pendidikan, dan kekuatan besar yang bisa membentuk peradaban islam yang di hormati dan di agungkan adalah yang kita sebut dengan pendidikan..

Karena Pendidikan lah Ibnu Sina, Ar-Razi, dan ilmuwan-ilmuwan muslim lain di beberapa abad lalu meninggikan martabat agama Islam. Karena usaha keras mereka lah nama Islam dikenal sebagai agama yang Rahmatan lil alamin.. Karya-karyanya tersebar di berbagai pelosok dunia, untuk diaplikasikan maupun dijadikan sarana Pendidikan.. Karena perjuangan mereka lah Islam berada pada masa Kegemilangannya saat itu..


“Seorang wanita (ibu)  adalah lembaga pendidikan, yang jika ia benar2 mempersiapkan dirinya, berarti  ia telah memepersiapkan sebuah generasi  yang benar2 digdaya” (Ahmad Syauqi)

“ Seorang Ibu adalah sekolah apabila engkau persiapkan dengan baik berarti engkau telah mempersiapkan generasi yang harum” (Syair Hafizh Ibrahim)

Lalu,sadarkah kita bahwa Madrasah utama, Guru terbaik, Pendidik pertama bagi seorang anak adalah seorang Ibu, ya Ibu adalah Lembaga Pendidikan pertama bagi setiap generasinya, bahkan pendidikan itu sudah terbina ketika anak tersebut masih dalam kandungan..


Dalam sejarah islam, orang-orang besar lahir di bawah bimbingan bijak para Ibu. Seorang Ulama, Hasan Muhammad Abu Al-Walid an-Naisabari menjadi ulama yang cerdas dan pintar karena ibunya mendoakannya saat kehamilannya, “ Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang pintar.”  Dan dikabulkanlah  permintaannya, Imam Bukhari menjadi Ulama dan Pakar hadist yang sukses berkat besarnya perhatian ibunya terhadap pendidikannya.

Keberhasilan seorang anak tidak pernah lepas dari pendidikan yang diberikan oleh Ibunya, Ibunya yang mengarahkannya, mengajarkannya, membimbingnya, mengiringi perkembangannya, dari anak tersebut masih dalam kandungan, hingga anak itu tumbuh dewasa.

Bahkan ketika anaknya sudah dewasa pun, seorang Ibu akan terus mendoakannya,menasihatinya, untuk selalu menjadi seorang muslim yang baik, seorang pemimpin yang cerdas, seorang  manusia yang senantiasa bermanfaat.

Teringat cerita tentang Abdullah bin Zubair sata ia masih kecil. Seperti biasa ia bermain bersama teman-temannya. Tiba2 tawa riang mereka berhenti seketika . Sunyi,senyap. Teman-temannya pergi. Ternyata Karena Umar yang sangar dan di takuti itu lewat. Anak-anak pun takut. Mereka berhamburan dan berlarian ketakutan. Namun Abdullah bi Zubair tetap diam di tempatnya.

Umar pun tertarik dan mendekat padanya, “ Mengapa engkau tidak ikut-ikutan berlari bersama teman-temanmu?” Tanya Umar penuh keheranan.

“Wahai Amirul Mukminin. Aku tidak berbuat salah,mengapa harus takut kepadamu? Lagipula jalan kan masih luas,tidak sempit, mengapa aku harus menyingkir dan meluaskannya untukmu?” jawab bocah belia ini. Mendengar jawaban bocah kecil ini, Umar pun kagum atas keberanian dan keterusterangannya. Benar-benar pemberani.

Siapa di balik keberanian Abdullah ini? Tidak lain adalah Ibunya Asama binti Abu Bakar. Asma adalah seorang wanita pemberani,putri sahabat nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq.

Terdapat juga kisah tentang remaja nan belia. Lelaki mulia. Usianya baru belasan tahun. Suatu hari saat masih remaja ia berkelana. Di tengah perjalanan itu, ia dihadang sekumpulan perampok. Para perampok itu menggertaknya. Mereka hendak merampas harta miliknya. Karena memang itulah tugas para perampok.

Nah, saat digertak oleh gerombolam perampok itu remaja ini bergeming,sama sekali tidak merinding. Tegak Berdiri gagah berani. Menjawab dengan mantap dan penuh percaya diri.

“ Aku telah berjanji pada ibuku untuk selalu berlaku jujur. Aku tidak mau mengkhianati janjiku pada ibuku,” katanya pada perampok itu. “Aku membawa uang sebanyak 40 dinar.”

Mendengar jawaban jujur dan polos remaja tersebut,sang kepala perampok pun menangis. Ia mengatakan,” Engkau takut mengkhianati janjimu pada ibumu,, Tetapi mengapa aku tidak takut mengkhianati janjiku pada Allah?”

Subhanallah, Janji dan kejujuran pada sang ibu ini ternyata dengan seizin Allah bisa membuka hidayah dan kesadaran sekelompok perampok. Mereka pun kapok.

Lalu siapa pemuda Jujur tersebut? Dialah Abdul Qadir Al-Jailani. Namanya jaminan mutu. Prestasinya harum sepanjang waktu. Keberanian,kejujuran, dan kecerdasannya menjadi modal yang kekal. Dia berhasil mengantar ribuan orang masuk islam. Dia memang hebat,dahsyat, tapi siapakah yang lebih hebat, tentu saja Ibu yang mendidiknya.


“Di balik para pahlawan besar, ada wanita-wanita besar..”

Tentu semuanya tau siapa Khalid bin Walid, Dialah Mujahid legendaris yang membuat orang kafir miris.  Berkali-kali ia terlibat perang, dan totalitasnya selalu mengagumkan baik sebagai qiyadah (pemimpin) perang, maupun Jundi (prajurit) perang..

Lalu siapa dibalik kehebatan Khalid bin Walid?? Tentu saja ibunya.. Ketika Umar mendengar Khalid di penghujung usia, beliau mengakui eksistensi kepahlawanan dan keutamaan ibunya,  “ Seluruh wanita tidak mampu melahirkan anak seperti Khalid..” begitu komentar Umar.

Begitulah, “dibalik para pahlawan besar ada wanita-wanita besar”, dan kunci dari semuanya adalah Tarbiyah. Dan tarbiyah di tangan bijak seorang Ibu akan menjadi energy yang Dahsyat.

Teman-teman juga mungkin tidak asing dengan sosok  Khansa’ ibunda para Mujahid. Ia mengerahkan keempat putranya untuk ikhlas  berperang di medan perang. Ia yang menasihati keempat putanya bahwa kehidupan yang kekal hanya di akhirat, dan meyakinkan mereka bahwa Allah akan menyediakan pahala bagi  seorang muslim yang memerangi orang kafir.

Sehingga semua anaknya menjadi pejuang yang tangguh di medan perang, ketika saudara mereka terbunuh satu-persatu pun,mereka selalu teringat akan nasihat ibunya.. Sehingga rasa takut pun enggan menyelinap di hati mereka.

Khansa’ mengerahkan keempat anaknya untuk ikut mengangkat senjata dalam usaha mendapatkan tiket masuk Syurga. Khansa’ pun tidak tinggal diam, ikut berperang di medan perang dalam barisan wanita, yang merawat prajurit dan membawa makanan. Subhanallah..

Para pahlawan adalah orang-orang yang mampu menggali potensi dahsyat dari rumahnya,dari Ibunya. Merekalah Madrasah sebelum Madrasah lainnya. Al-Ummu madrasatun. Seorang Ibu adalah tempat sekolah bagi anak-anaknya sekaligus madrasah cinta para pahlawan

Napoleon Bonaparte pernah ditanya,” Benteng manakah di Prancis yang paling kuat?”   Ia menjawab,” Para ibu yang baik.”

Karena itu,, Barakallah ya Ummi, selamat wahai para Ibu. Di tangan mu lah generasi ini akan maju.  Ikhwatifillah, salah satu peran penting  dan kekuatan keluarga , khususnya seorang Ibu adalah,  mendidik generasi untuk menjadi asset dan investasi, baik di masa kini maupun dimasa nanti, akhirat nan abadi.

Kesuksesan pendidikan merupakan Saham riil bagi penyiapan kader-kader dakwah yang handal,membentuk keluarga islami, menciptakan lingkungan dan masyarakat yang penuh  dengan manusia-manusia berkualitas untuk mengaplikasikan islam dalam kehidupan.

Wahai saudariku Muslimah, begitu besar anugrah Allah yang diberikan atas kita, satu karunia yang tak terhingga nilainya. Berbahagialah,tersenyumlah, karena engkaulah sumber percikan cahaya peradaban. Engkaulah Madrasah Akhlak mulia. Engkaulah pengokoh kesempurnaan generasi. Engkaulah mata air bening syurgawi, pelepas dahaga jiwa, penyejuk kerinduan hati..

Ketiadaanmu adalah ketiadaan pengukuh semangat generasi, Kebaikanmu berarti kebaikan semesta, keburukanmu berarti kehancuran negrimu.

Jelas sudah, dari  rahim seorang ibulah lahir para pahlawan besar, dari didikan seorang Ibulah lahir para pejuang tangguh, dari  bimbingan seorang ibu lah lahir para ilmuwan-ilmuwan hebat.   Dari rumah sang anak belajar untuk jujur, dari rumah sang anak di didik untuk rajin belajar, dari rumah lah sang anak di ajarkan untuk cinta pendidikan, dan dari rumah lah sang anak dibina untuk benci kejahatan.

Ibu yang membangun karakter seorang anak dari awal, karakter yang akan menjadi arahan perkembangan  kepribadian seorang anak. Ibu yang akan memulai melatih pola pikir anak.

Dari lingkungan rumahnya sang anak  diajarkan untuk jadi seorang pemimpin, dilatih untuk berfikir kreatif, diajarkan untuk  disiplin.  Dari bimbingan seorang ibu sang anak akan rajin membaca Qu’an,  dari sentuhan nasihat  ibu lah sang anak  akan rajin beribadah, dari binaan seorang ibulah sang anak belajar menghafal Al-Qur’an..

Ya, Ibulah madrasah sebelum madrasah lainnya. Karena anak  lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bahkan pemilihan sekolah yang baik untuk sang anak pun, tak lepas pula dari pilihan seorang Ibu. Tapi tetap saja, pendidikan terbaik sepanjang masa untuk seorang anak ada di dalam rumahnya.

Karena itu, kebaikan seorang anak tercermin dari kehebatan seorang ibunya pula.  Apakah Ibunya mendidik atau membina sang anak dengan baik atau tidak. Apakah sang Ibu menjaga dan mengiringi  langsung pembentukan karakter sang anak, atau membiarkan pengasuh atau baby sitter yang akan mengambil peranan itu.

Wahai para calon Ibu, kita juga telah mengetahui bahwa anak adalah amanah dari Allah. Anak adalah titipan yang Allah berikan pada kita, dan suatu saat Allah akan mengambilnya kembali dari kita. Allah akan menilai keberhasilan kita dalam menjaga dan mendidik titipan-Nya itu.

Satu pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi Orang Tua yang baik untuk anak2nya. Dari sanalah akan terbentuk generasi Rabbani, dari sanalah akan tercipta cahaya-cahaya peradaban.. Ketika semuanya  sibuk  untuk menjadi seorang dokter, arsitek, dosen, pemimpin perusahaan, sadarkah semuanya bahwa  pekerjaan utama kita adalah menjadi orang tua untuk anak-anak kita.

Apalagi untuk seorang wanita, pekerjaan utama kita adalah menjadi seorang ibu yang mendidik  generasi-generasi penerus kita. Menjadi seorang dokter hanyalah pekerjaan sampingan saja (buat saya pribadi^^).. pekerjaan utama tetep saja menjadi seorang Ibu.

Tapi tetep saja, proses pembelajaran kita, kuliah kita, sekolah kita, sosialisasi kita, tetap dibutuhkan untuk bisa jadi seorang ibu yang baik. Justru karena kita akan menjadi ibu yang baiklah,kita pun harus banyak belajar. Karena anak yang berwawasan luas juga tercipta dari Ibu yang banyak memberinya wawasan dan membiasakan sang anak untuk selalu menambah wawasan..

Untuk itu, kita pun harus banyak mempersiapkan diri untuk itu, karena untuk menjadi madrasah akhlak yang baik untuk anak-anak kita tidak bisa kita peroleh dengan cara instan.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang hafidz Qur’an sedangkan kita sendiri  juz 30 saja masih ada yang belum hafal.

Bagaimana mungkin kita mau menjadikan anak kita anak Shaleh tetapi kita sendiri belum paham deskripsi anak shaleh itu apa.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita jadi anak yang jujur kalau kita sendiri  sering berbohong dan memalsukan keterangan.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang rajin dan cinta belajar sedangkan kita hanya duduk di depan televisi berjam-jam.

Bagaimana kita menginginkan  anak yang bisa jadi pemimpin hebat kalau untuk memimpin diri sendiri saja kita tidak bisa.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita disiplin tapi kita nggak membiasakan disiplin di rumah kita, kalau management waktu kita saja masih buruk.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita jadi anak cerdas kalau kita nya saja males untuk kuliah.

Bagaimana kita ingin anak kita cinta pada lingkungan kalau kita masih buang sampah sembarangan

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita terjaga izzah dan iffah nya sementara kita bergaul terlalu bebas dengan lawan jenis kita.

Bagaimana mungkin kita menginginkan anak kita mengasihi yang muda dan menghormati yang tua, kalau kita sendiri tidak pernah memberikan sentuhan kasih sayang kita pada mereka.

Bagaimana mungkin kita ingin anak kita mencintai hidup sederhana dan mengasihi fakir miskin kalau kita saja masih sering membeli barang yang tidak perlu dan terlalu mewah.

Bagaimana kita menginginkan anak kita mencintai dan menghormati kita kalau kita saja tidak berakhlak baik pada orang tua kita. Menanyakan kabarnya saja jarang.

Semua persiapan itu tidak instan, semua persiapan itu tidak bisa tercapai tiba-tiba. Perlu proses  yang akhirnya membuat kita banyak belajar dan memahami itu. Karna untuk membentuk karakter yang baik, kita pun harus memiliki karakter yang baik.

Dan pembentukan karakter itu bukan suatu hal yang instan, perlu keinginan yang kuat dan continue untuk terus membentuk diri kita jadi madrasah utama tersebut. Masih banyak yang harus kita pelajari, masih banyak sikap yang harus kita latih, masih banyak yang harus kita biasakan. Karena suatu saat kita akan menjadi contoh pula bagi anak-anak kita.


Belajarlah dari Ummahat-ummahat terdahulu, belajarlah dari Ibunda para mujahid, Belajarlah dari Istri-istri Nabi yang Shalehah, belajar lah dari sahabat-sahabat Rasul, Belajar lah dari ibu2 yang sukses mengantarkan anaknya menjadi anak-anak yang hebat. Tentu mereka bukanlah wanita biasa. Belajar lah dari mana saja kita bisa belajar. Untuk mempersiapkan kematangan diri kita.

Jangan pernah malu untuk belajar. Jangan pernah merasa kalau ini hanya harus dilakukan oleh perempuan yang akan menikah. Karena pada dasarnya kita akan mengalami fase tersebut, InsyaAllah..

Semoga ketika kita berada di fase tersebut, kita sudah bisa menjadi seorang ibu yang siap pakai.  Bukan baru mulai belajar. Walaupun proses belajar itu sendiri pun akan berlangsung terus-menerus  seumur hidup..

Mudah-mudahan ketika ada di fase tersebut kita sudah disiapkan untuk menjadi madrasah akhlak yang baik. Karena pembinaan anak itu berlangsung bahkan sebelum anak tersebut lahir di dunia..


Semangat akhwat-akhwat Shalihah^^,, Allah telah menitipkan tugas mulia itu pada kita.  Kerjakanlah amanah itu dengan sebaik-baiknya.. Karena Kalianlah  Sumber percikan cahaya peradaban.. 🙂


Para ahli tumbuh kembang anak mengatakan bahwa periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak sebagai “Masa Keemasan (golden period) atau Jendela Kesempatan (window opportunity), atau Masa Kritis (critical period)”.

Apakah artinya? Periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak (masa balita) merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat pada otak manusia,  merupakan masa yang sangat peka bagi otak anak dalam menerima berbagai masukan dari lingkungan sekitarnya.

Walau proses belajar terus berlangsung selama usia manusia, namun delapan tahun pertama usia anak bisa mempengaruhi kehidupan anak secara permanen. Pada masa ini otak balita bersifat lebih plastis dibandingkan dengan otak orang dewasa dalam arti anak balita sangat terbuka dalam menerima berbagai macam pembelajaran dan pengkayaan baik yang bersifat positif maupun negatif.

Pada masa ini anak memiliki konsentrasi 100 persen dalam ingatannya saat menerima informasi. Felicia Irene M.Psi, psikolog perkembangan anak memaparkan, dalam rentang masa ini perkembangan fisik, motorik, dan berbahasa anak tumbuh pesat. Masa krusial ini dibagi menjadi dua, yaitu usia 0-3 tahun dinamakan batita (toddler) dan usia 3-6 tahun disebut masa prasekolah.

Sisi lain dari fenomena ini yang perlu mendapat perhatian, otak balita lebih peka terhadap asupan yang kurang mendukung pertumbuhan otaknya seperti asupan gizi yang tidak adekwat, kurang stimulasi dan kurang mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Oleh karena itu kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi masukan dan nilai-nilai yang postiif, menghindari masukan yang bersifat negatif dan sedapat mungkin memberikan asupan gizi yang adekuat, memberikan stimulasi yang baik dan benar, serta memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi anak.

Mengingat masa 5 tahun pertama merupakan masa yang  ‘relatif pendek’  dan tidak akan terulang kembali dalam kehidupan seorang anak, maka para orang tua dan pendidik harus memanfaatkan periode yang ‘singkat’ ini untuk membentuk anak menjadi bagian dari generasi penerus yang tangguh dan berkualitas.

Berdasarkan referensi yang saya dapat kebutuhan dasar seorang anak terdiri dari 3 faktor :

v     ASUH ( kebutuhan biomedis)

Menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan  sesudahnya, kebutuhan akan tempat tinggal, pakaian yang layak dan aman , perawatan kesehatan dini berupa imunisasi dan deteksi dan intervensi dini akan timbulnya gejala penyakit.

v     ASIH ( kebutuhan emosianal)

Penting menimbulkan rasa aman (emotional security) dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin dengan ibu. Kebutuhan anak akan kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, ,pengalaman baru, , pujian, tanggung jawab untuk kemandirian sangatlah penting untuk diberikan. Tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan , tetapi lebih banyak  memberikan contoh – contoh   penuh kasih sayang adalah salah satunya.

v     ASAH ( kebutuhan akan stimulasi mental dini)

Cikal bakal proses pembelajaran , pendidikan , dan pelatihan yang diberikan sedini  dan sesuai mungkin. Terutama pada usia 4 – 5 tahun pertama ( golden year) sehingga akan terwujud etika, kepribadian yang mantap, arif, dengan kecerdasan, kemandirian ,ketrampilan dan produktivitas yang baik.

Orang tua, pengasuh dan pendidik perlu mengetahui kebutuhan dasar anak dan melakukan pembinaan yang berkualitas dan komprehensif kepada anak melalui kegiatan yang disebut sebagai Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Anak.

Nomor satu tentunya pendidikan agama sejak dini, disamping itu untuk memacu tumbuh-kembang tubuh dan otaknya, mendeteksi, menghindari dan mengoreksi penyimpangan tumbuh-kembang anak, perlu dilakukan kegiatan SDIDTK yang meliputi:

  • Stimulasi yang memadai, yaitu merangsang otak balita agar perkembangan kemampuan gerak, bicara, bahasa, sosialisasi dan kemandirian anak berlangsung secara optimal sesuai usia anak.
  • Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu melakukan skrining atau mendeteksi sejak dini terhadap kemungkinan adanya penyimpangan tumbuh kembang anak balita.
  • Intervensi dini, yaitu melakukan koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk memperbaiki bila ada penyimpangan tumbuh kembang dengan tujuan agar pertumbuhan dan perkembangan anak kembali kejalur normal dan penyimpangannya tidak menjadi lebih berat.
  • Rujukan dini, yaitu merujuk/membawa anak ke fasilitas kesehatan bila masalah penyimpangan tumbuh kembang tidak dapat diatasi meskipun sudah dilakukan intervensi dini.

Untuk membentuk seorang anak menjadi manusia yang berkualitas maka anak usia 0-6 tahun perlu mendapatkan stimulasi rutin sedini mungkin dan terus-menerus pada setiap kesempatan.

Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh-kembang anak yang bahkan dapat menyebabkan gangguan yang menetap. Stimulasi perlu dilakukan menurut aturan yang benar seperti anjuran para ahli, stimulasi yang salah dapat menyebabkan pembentukan anak yang menyimpang.

Oleh karena itu stimulasi sebaiknya dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan anak yang telah mendapat pengertian tentang cara memberi stimulasi yang benar, misal: ayah, ibu, pengasuh, anggota keluarga lain, petugas kesehatan dan kelompok masyarakat tertentu, misal kader kesehatan atau kader pendidikan.

Mengapa proses tumbuh kembang anak menjadi sangat penting untuk dipahami? karena pada dasarnya kualitas generasi penerus nanti dipengaruhi pula oleh kualitas tumbuh kembang anak saat ini. Seperti yang telah banyak kita ketahui, bahwa generasi penerus nantinya lah yang akan menjadi pengganti dari para pemimpin-pemimpin bangsa saat ini. Karena itu kita juga harus berusaha agar generasi penerus nanti merupakan generasi yang cerdas,terdidik dan tangguh.

Kualitas para pemuda, tidak bisa kita pungkiri, juga akan tercermin dari bagaimana pola asuh atau pola didik dia dari masa kanak-kanaknya. Semakin baik pola pengasuhannya, semakin terlatih perkembangan otaknya, maka ia akan menjadi seorang kader yang semakin berkualitas. Karena itulah masalah ini juga di anggap penting dalam rangka membangun peradaban yang lebih baik lagi.

Kembali kepada realita yang ada, saat ini proses perkembangan kecerdasan dan intelektual anak belum terbina dengan baik. Seperti kita ketahui bersama, bahwa madrasah yang paling baik buat seorang anak adalah Ibu. Sedangkan saat ini, di Indonesia khususnya, peran ibu dalam mengawasi perkembangan buah hatinya sudah semakin menurun.

Tuntutan ekonomi dan pekerjaan, pada akhirnya membuat seorang ibu terpaksa mengalihkan tugas menjaga dan memantau perkembangan anaknya pada seorang pembantu rumah tangga (PRT) atau baby sitter. Padahal pendidikan seorang pembantu atau baby sitter hanya sebatas SD atau SMP, mungkin ada beberapa juga yang lulus SMA.

Pengetahuan mereka tentang pola asuh yang baik dan pemantauan perkembangan anak yang baik pun bisa di bilang rendah. Bukan hanya PRT dan Baby sitter, mungkin sang ibu sendiri pun belum begitu memahami betul bagaimana cara yang tepat untuk mengoptimalkan perkembangan anak di masa golden periode tersebut.

Berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan oleh Universitas Airlangga di dapatkan bahwa ternyata memang PRT tidak memiliki pemahaman yang baik tentang mengasuh anak.  Penelitian ini merupakan Penelitian deskriptif-analitik di1akukan secara cross sectional, selama 5 (lima) bulan, berlokasi di kompleks perumahan ITS, Sukolilo dan kompleks perumahan Pondok Benowo Indah. Benowo, Kota Surabaya.

Dari sana di dapat bahwa PRT memperoleh informasi tentang cara pengasuhan anak umumnya diperoleh dari majikan (ibu) dan tingkat pengetahuan dan keterampilan PRT tentang pengasuhan anak tergolong rendah.

Status gizi sebagian besar anak yang diasuh adalah normal, namun masih ditemukan adanya anak dengan status gizi lebih, sedang dan kurang. Perkembangan sebagian besar anak yang diasuh adalah normal tetapi masih djumpai adanya keterlambatan perkembangan pada sebagian anak yang di asuh.

Selain proses perkembangan yang belum di kawal dengan baik, permasalahan lain yang menyangkut proses perkembangan sang anak adalah masalah status gizinya. Di atas sudah dipaparkan pula bahwa status gizi pun sangat berpengaruh pada perkembangan kecerdasan seorang anak.  Dengan gizi yang baik dan terkecukupi maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Permasalahannya, sekarang bisa kita lihat bahwa pemenuhan gizi anak belum terkecukupi secara baik. Bukan hanya saja permasalahan ekonomi yang mengakibatkan seorang anak tidak mendapatkan gizi yang cukup, tapi saat ini pemenuhan gizi bagi anak dengan keluarga yang berkecukupan pun belum tentu terpenuhi dengan baik.

Hal ini bisa kita lihat dari kenyataan susahnya membujuk anak memakan sayur-sayuran. Bahkan mungkin ada beberapa anak juga yang susah untuk memakan buah-buahan yang mengandung nutrisi yang baik.

Lebih parah lagi yang juga harus jadi sorotan adalah masalah jajanan yang biasanya terdapat di sekolah dasar- sekolah dasar. Tidak bisa dipungkiri bahwa jajanan tersebut merupakan jajanan dengan kualitas gizi yang sangat rendah. Bahkan ada juga yang malah bisa membuat si anak menjadi bodoh dalam perkembangan kecerdasannya.

Satu hal yang menginspirasi saya dalam menulis hal ini berawal dari keprihatinan saya terhadap anak-anak zaman sekarang. Terkait masalah 2 hal di atas dan yang juga menjadi sorotan buat saya adalah masalah perkembangan dunia entertaintment yang begitu pesat dan semakin tidak mendidik.

Ketika saya masih bisa mendengarkan lagu anak-anak saat kecil,tapi sekarang anak-anak kecil banyak sekali yang menyanyikan lagu orang dewasa. Banyak sekali godaan yang membuat anak-anak zaman sekarang cenderung bersifat manja, dan keinginan untuk belajarnya pun semakin menurun. Apalagi ketika di tinggal di rumah hanya dengan seorang pembantu, itu benar-benar akan sangat membuka celah buat anak-anak tersebut bermain sesuka hati mereka. Tanpa arahan dan bimbingan yang jelas. Hasilnya, optimalisasi perkembangan sang anak pun tidak akan berjalan dengan baik.

Karena itu, perlu pengawasan ekstra dari seorang ibu untuk bisa mengoptimalisasikan perkembangan anak-anaknya. Karena lahirnya para pemuda yang merupakan ujung tombak perubahan dan pergerakkan itu, terbentuk dari bagaimana cara ia di didik sejak kecil. Dan peran serta seorang ibu sangat besar untuk proses optimalisasi tersebut.. 🙂


Iringi terus proses perkembangan mereka, jangan sampai anak kita menjawab seperti ini saat ujian,, 🙂

jawaban ujian


Dikutib dari Majalah Kompas tulisan saudari, Dewi Lestari

Hidup dalam era keluh kesah bukan hal yang mudah. Saat semua yang membombardir kita adalah berita buruk, kritik, hujatan, atau justru berita dangkal, takhayul, dan dongeng hitam-putih.

Pemberdayaan, keceriaan, dan persahabatan, menjadi barang langka saat mata uang yang laku adalah derita. Kita menanti tangan raksasa, pemerintah atau pemimpin impian, untuk membebaskan kita dari jerat kemelut. Penantian panjang yang lambat laun bermutasi menjadi budaya sistemik akhirnya secara nyata mengambil kendali dari tangan kita, menjadikan kita si pengeluh-pemimpi-tak berdaya.

Bila diamati, perubahan yang kebanyakan dari kita inginkan bermuara pada hal-hal yang terdengar mendasar, bahkan naif, yakni: damai, bahagia, sehat. Baik yang paling miskin dan yang paling kaya mengaku sama-sama mendamba tiga hal tersebut.

Namun seringkali kata-kata itu terjerat pada level konsep, terkubur jauh dalam lapisan artifisial, dan terpoles glazur tebal hingga kita akrab mendengar tapi jarang, bahkan tak pernah merasakannya. Entah kita tak tahu caranya, atau kita tak serius menginginkannya.

Beberapa data menarik dari ECOSOC pada tahun 1998 mengungkap bahwa dana pendidikan yang dialokasikan seluruh pemerintah dunia sejumlah US$ 6 miliar. Angka ini kalah dibanding penjualan parfum di Eropa yang mencapai US$ 8 miliar. Pengeluaran untuk air dan sanitasi seluruh umat dunia sejumlah 9 miliar USD, lebih kecil ketimbang penjualan es krim di Eropa yang sampai 11 miliar dolar Amerika.

Lalu, pakan binatang peliharaan di Amerika dan Eropa (17 miliar USD) ternyata lebih mahal dibanding dana kesehatan seluruh pemerintah di dunia yang cuma 13 miliar USD. Bandingkan lagi dengan perdagangan narkoba di dunia yang mencapai 400 miliar dolar Amerika, juga dana militer dunia yang menyedot 780 miliar dolar Amerika.

Di Indonesia, kebanyakan nelayan tidak berperahu, sementara segelintir rakyatnya berkesempatan mengoleksi mobil sejumlah lebih dari yang dibutuhkan. Anak-anak Indonesia hanya 46,8% saja yang dapat menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar, sementara segelintir rakyatnya dapat mengoleksi busana dan aksesoris dengan dana yang mampu mengantar satu anak sekolah hingga tamat lulus S1.

Inilah cermin yang merefleksikan prioritas kita. Inilah kondisi global yang menjadi tantangan bagi semua umat dunia. Disparitas yang diungkap di atas bukan lagi barang baru. Kita paham konsep kesenjangan sosial, kita melihatnya setiap hari hingga lama-lama mata kita terbiasa.

Kita paham bahwa jika itu terus dibiarkan, akan ada polaritas ekstrem yang otomatis menimbulkan friksi, perpecahan, dan segala hal yang berusaha kita hindari. Lalu, kita bungkus lamunan utopis kita tentang perdamaian dan keadilan dunia dalam indahnya melodi, lirik lagu, puisi, tapi tidak pernah kita benar-benar berusaha mewujudkannya. Inilah titik tolak untuk sama-sama mengevaluasi pilihan-pilihan hidup kita, dan merenungi: adakah kita miliki kekuatan itu?

Seorang filsuf perempuan Simone de Beauvoir mengatakan “yang personal adalah politis”. Jika masyarakat terbius dengan konsep bahwa lokomotif perubahan haruslah pemerintah, lembaga besar, atau perusahaan multinasional raksasa, maka perubahan akan mengikuti gaya birokrat yang lambat, atau gaya korporat yang melulu beragendakan profit.

Seorang walikota di Jawa Tengah pernah mengeluhkan tentang birokrasi yang menghambatnya untuk berinvestasi pada sistem pengolahan sampah kota. Butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan untuk ide bergulir sampai jadi realitas. Sementara seorang ibu rumah tangga dengan hitungan jam dapat langsung mengubah sistem pengolahan sampah di rumahnya dengan membuat kompos sendiri.

Satu contoh besar pernah dilakukan oleh mantan presiden Chekoslovakia, Vaclav Havel. Dia pernah memimpin bangsanya melewati masa krisis akibat sistem yang tak adil lewat gerakan pembangkangan bermodalkan kemanusiaan.

Pengalamannya membuktikan bahwa dorongan politik lebih efektif jika datang dari ibu rumah tangga, pekerja biasa, filsuf, penulis, dokter, dan seterusnya, ketimbang dari para politisi. Hal itu dimungkinkan justru karena masyarakat biasa tidak terikat pada pemikiran politik konvensional.

Gerakan ‘chipko’ atau ‘tree-huggers’ yang dipelopori oleh para perempuan pada tahun 1980-an pernah menyelamatkan ribuan pohon di Himalaya. Mereka menunjukkan perlawanannya dengan memeluk pohon-pohon yang akan ditebang.

Ada juga Vandana Shiva, seorang ahli fisika dan feminis India, yang berhasil melawan pertanian eksploitatif korporasi dengan menggerakkan petani untuk kembali ke praktek pertanian yang bersahabat dengan bumi. Kasus makanan berformalin terakselerasi begitu ibu-ibu rumah tangga stop membeli, lalu pedagang panik, pasar panik, dan akhirnya regulasi formalin mulai dikaji lebih serius.

Kelumit-kelumit realitas tadi dapat mengubah posisi gerbong kereta perubahan. Lokomotif berkekuatan besar justru unit rumah tangga yang kecil. Ibu rumah tangga sebagai penentu mekanisme sehari-hari otomatis mendominasi kendali atas produk yang dikonsumsi, anggaran bulanan, jenis informasi yang beredar di rumah, tata cara pengolahan ini-itu, dan seterusnya.

Jika kekuatan memilih itu disadari penuh, maka pemberdayaan akan kembali ke tangan masyarakat. Perubahan dapat terjadi dalam hitungan hari, tanpa birokrasi berbelit dengan kecepatan siput.

Kita memiliki daftar protes terhadap kondisi dunia, tanpa selalu sadar bahwa kita punya kekuatan untuk mengubahnya. Jika kita resah dengan krisis ekologi dan hutan tropis kita yang tak habis-habis dirambahi, tanamlah setidaknya satu pohon baru di pekarangan.

Pemerintah mungkin akan butuh tahunan untuk mengadakan sepuluh juta pohon sekaligus, tapi rakyatnya dapat berbuat sama dalam waktu singkat. Jika kita resah dengan masalah sampah yang bikin banjir, olahlah sampah rumah tangga mulai besok.

Jika kita muak dengan informasi dan hiburan yang tidak mendidik, matikan teve dan hanya tonton yang betul-betul perlu. Jika ingin rakyat cerdas, korbankan satu kebutuhan tersier kita untuk menjadi biaya sekolah satu anak asuh. Jika kita benci korupsi, hentikan segala perbuatan curang di rumah. Jika kita benci perang, stop dan cegah kekerasan di rumah.

Tanpa sepenuhnya disadari, kekuatan untuk mengubah wajah dunia ternyata ada di rumah kita. Keputusan kita untuk memilih makanan, minuman, tempat belanja, prioritas keuangan, dan seterusnya, adalah keputusan politis yang bisa menentukan jutaan nasib manusia.

Keputusan kita untuk memilih antara beras impor atau beras lokal, buah impor atau buah lokal, dapat menyelamatkan pendapatan para petani Indonesia. Keputusan kita untuk memilih satu lagi tas bermerk untuk menemani sepuluh tas yang ada atau mendonasikan uang untuk biaya sekolah satu anak, akan membawa perbedaan besar.

Tantangan paling besar tentunya adalah keinginan melihat efek yang instan dari tindakan kita. Juga skeptisisme bahwa hal kecil yang kita lakukan betul-betul punya dampak. Begitu pula sikap eskapis yang menggoda kita untuk ‘membuang’ kendali itu dengan misalnya berkata ‘tidak semua ibu punya kapasitas berpikir yang sama jadi lupakan saja. Dan, lagi-lagi pemberdayaan itu kabur dari tangan kita.

Tidak ada lagi saat yang paling tepat untuk para ibu mengambil peran sebagai lokomotif perubahan dan penjaga kehidupan. Saat masyarakat merasa kehilangan daya, sesungguhnya kekuatan menanti pada perspektif yang berganti, siapakah yang sesungguhnya punya potensi dahsyat untuk menjadi lokomotif perubahan: pemerintah berlembaga atau ibu berkeranjang belanja?

Selama kita sungguh-sungguh menginginkan perubahan itu terwujud, bukan hanya sebatas gincu di mulut, selamanya pula saya memilih yang kedua.

Membaca tulisan tersebut,jadi teringat kembali akan perkataan Ahmad Syauqi bahwa “Seorang Ibu adalah lembaga pendidikan,yg jika ia benar2 mempersiapkan dirinya,berarti ia telah mempersiapkan sebuah generasi yg benar2 digdaya.”

Ibu adalah madrasah utama buat anak2nya, karena itu seorang ibu pun harus punya ilmu dan pendidikan yang cukup untuk bisa membimbing anaknya menuju gerbang kesuksesan. Menjadikan mereka pembela agama Allah, mujahid dan mujahadah tangguh, yang bisa banyak berkontribusi untuk  keluarga,bangsa dan agama.

Karena tanpa kita sadari, Ibulah yang akan membentuk pola pikir anak, yang akan membentuk pribadi si anak, karena di Rumah lah sang anak banyak mendapatkan pelajaran. Itu juga yang mengakibatkan di anjurkannya para Ibu untuk bisa mendidik sendiri anak-anaknya, tidak membiarkan masa kecil anaknya di bawah asuhan baby sitter,yang notabene tidak banyak paham bagaimana membentuk karakter yang baik.

Seperti kita ketahui, anak2 lah generasi penerus yang akan memimpin bangsa ini kelak, karena itu,mereka pun harus dipersiapkan dengan matang. Jangan sampai mereka lebih banyak terpengaruh oleh lingkungan saat ini yang keras dan tidak bermoral.

Perubahan bisa terjadi dari manapun, melalui apapun, dan kita sebagai calon ibu, juga akan sangat memegang peranan penting untuk itu. Karena di belakang laki-laki hebat akan ada seorang perempuan yg tangguh. Di balik para pejuang hebat,akan selalu ada seorang ibu yang mendidik mereka dengan baik hingga bisa jadi manusia yang selalu memberi  manfaat untuk umat dan berani berjuang demi tegaknya islam dan kebenaran.

yakinlah,kita bisa menjadi wanita tangguh itu. Tapi untuk itu,tentu tidak mudah, banyak persiapan yang harus kita hadapi, masih banyak yang harus kita persiapkan,ilmu yang harus kita gali..Hidup adalah pilihan, pilihan untuk jadi manusia biasa, dgn perjuangan yang biasa dan hasil yang biasa, atau menjadi manusia yang berjuang keras,dan memberikan banyak kebermanfaatan dan menjadi manusia yang di Ridhai  oleh Allah.

Semangat buat para Calon Ibu,, yakinkan diri kita untuk bisa jadi Super Women, super parent dan super Manager^^(iya ga panitia ZS?? 🙂 ) ,, Perubahan itu tidak harus dimulai dari lingkup yang besar, ketika itu susah terwujud, yakinlah bahwa perubahan itu bisa bermula dari hal yang sederhana, yaitu rumah kita sendiri^^..

Wallahua’lam..

Menikmati minggu pagi yang tentram,, jarang-jarang nih punya hari libur,,menikmati masa pensiun di usia senja ini,, hehe.. Ups,, Faizaafaraghta fanshab, benar sekali,, setelah selesai suatu urusan maka bersiaplah berjuang untuk hal lain.. Tapi entah kenapa hari ini lagi pengen menikmati masa pensiun sejenak, mudah2an mendapat semangat dan amunisi untuk berjuang  lebih keras lagi untuk hari esok, mengingat PR yang sangat banyak sebagai hamba Allah yang diamanahkan untuk menjadi khalifah fil ard,, tentu  tidak bisa hanya berdiam diri saja kan??!

Back to topic,,  sembari menikmati pagi,, tiba2 terlihat sebuah Koran yang tergeletak di meja, menarik jiwa saya yang merasa malu karena tidak up date dunia luar ini untuk meraihnya dan membaca isinya..  seolah mengetahui calon profesi saya, halaman pertama yang terbuka membuat saya  menyunggingkan senyum karena tertarik sangat untuk membaca isinya.. tentang apa coba?? ALL about  Kedokteran dalam  Islam.. hemmmm,, menarik sekali.. 🙂

Banyak sekali riwayat dari Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan penyakit dan obat penyembuhnya. Dalam satu kesempatan, Nabi Muhammad bersabda , “ Tidak ada satupun penyakit yang diciptakan oleh Allah, kecuali Dia juga telah membuat obatnya.”

Dalam hadist lain dikatakan ,

“Berobatlah karena Allah tidak menurunkan penyakit tanpa menyediakan obat atasnya, kecuali satu penyakit, yaitu usia tua.” Sabda beliau lainnya, “Dialah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya.”

Sejumlah riwayat itu melecut semangat umat islam sepeninggal nabi  SAW untuk meneliti setiap jenis penyakit  serta mencari  metode penyembuhannya. Tak mengherankan dalam kurun waktu relative singkat, ilmu kedokteran di dunia islam berkembang pesat. Inilah salah satu pilar penting peradaban islam di era kejayaannya. Tokoh medis pun bermunculan di kota2 islam bak jamur di musim hujan.

Tercatat ada nama Al-Razi (wafat 930 M) yang digadang-gadang sebagai ahli kedokteran terbaik pada abad pertengahan. Ilmuwan yg di kenal di barat dengan nama Rhazes ini menemukan saraf pangkal tenggorokan. Ia  juga berhasil mengidentifikasi jenis penyakit cacar dan campak. Penemuannya itu ia tulis dalam sebuah risalah dan diakui sebagai karya ilmiah pertama yang  menguraikan penyakit  cacar dan campak secara detail.

Lahir pula ahli kedokteran yang menulis kitab fenomenal, Al-Qanun fi at-Tibb. Dialah ibnu Sina yang dikenal di barat dengan nama Avicenna. Kejeniusannya diakui di dunia timur dan barat. Tak tanggung-tanggung, ia dijuluki Aristoteles dari Timur.

Ada pula Abu Al-Qasim al-Zahrawi atau Albucacis. Ia dikenal sebagai ahli Bertama di dunia Islam. Afzalul Rahman dalam buku berjudul Muhammad sebagai Pecinta Ilmu  menyebutkan Albucacis telah menorehkan prestasinya saat melakukan bedah. Termasuk bedah kandungan yang paling sulit sekalipun.

Prestasi gemilang juga ditorekan oleh ibnu Juljul, seorang ahli pengobatan herbal dari Kordoba,yang berhasil mengembangkan obat-obatan herbal warisan Yunani. Dalam karya-karyanya ia menjelaskan sifat-sifat tumbuhan serta mengungkapkan efek yang ditimbulkan  dari penggunaaan tumbuh-tumbuhan itu bagi tubuh manusia.

Bersama dengan munculnya ahli2 medis  yang sangat banyak jumlahnya, di bangun pula lembaga2 kesehatan berupa klinik ataupun rumah sakit. Rumah sakit pertama dalam peradaban islam di bangun oleh Khalifah Al-Walid dari dinasti Umayyah.

Hebatnya lagi RS Islam sejak dini sudah memerhatikan asas etika moral, baik pasien maupun dokternya. Afzalur Rahman menjelaskan, Rumah sakit besar Al-Manshur yang didirikan di Damaskus pada tahun 1284 merupakan rumah sakit terbuka untuk semua lapisan masyarakat. Kaya atau miskin, laki2 atau perempuan, bangsawan atau rakyat jelata, semuanya mendapatkan pelayanan yang baik. Rumah sakit ini memiliki bangsal yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Satu bangsal dibuat terpisah khusus penderita penyakit mata, khusus penderita demam, khusus sakit saluran cerna, dan ada ruang untuk bedah. Tersedia pula beberapa ruang tambahan yang dimanfaatkan untuk dapur, ruang kuliah apotek, dan lain sebagainya. Yang juga mengagumkan dari system Rumah sakit islam ini, adalah mekanisme perawatan, dimana pasien perempuan akan dirawat oleh perawat perempuan, demikian juga sebaliknya..

Lengkapnya saran dan prasarana Rumah Sakit tersebut disempurnakan dengan etika kedokteran islam. Perumusan etika kedokteran ini menjadi lebih mantap pada era Dinasti Turki Utsmani. Dokter2 di era turki Utsmani harus berpegang teguh pada prinsip kesederhanaan atau kesopanan, kepuasan,harapan, dan kesetiaan.

Dalam prinsip Kesopanan (kesederhanaan), seorang dokter harus menyadari  bahwa dirinya adalah khalifah tuahn yang bertugas menolong proses penyembuhan pasien. Seorang dokter hanyalah sarana, sedangkan penyembuh nyata adalah Allah SWT.

Di samping itu, seorang dokter harus melawan uang yang bukan haknya,dengan alasan pengobatan. Etika yang ditetapkan menuntut seorang dokter agar menahan diri untuk tidak menjadi ambisius dan tekun mengumpulkan harta.

Seorang dokter juga diwajibkan melanjutkan pengobatan kepada pasiennya selama dia mampu, yaitu merawat pasiennya secara jujur dan tidak mengenal putus asa. Demikianlah semangat umat islam kala itu berbuat untuk manusia dan kemanusiaan.  Mereka jauh dari ruh persaingan yang memperebutkan keuntungan material. Namun berlomba menuju kebaikan dalam bingkai keimanan yang ditanamkan Rasulullah SAW.

Subhanallah,, ternyata Kedokteran sudah banyak dikuasai oleh tokoh2 muslim sejak dulu, bahkan banyak pula yang menerbitkan buku yang menjadi referensi bagi pendidikan2 kedokteran di dunia.. tapi sekarang, kok kayaknya susah sekali cari buku karya ilmuan muslim,, atau mungkin tidak ada 🙂 ..

Ayo,, akhwat-ikhwan sekalian,, ayo kita bangkitkan kembali nama Islam di dunia Kedokteran, dan di dunia Ilmu Pengetahuan.. Karena majunya suatu bangsa mau tidak mau ditentukan oleh tingkat pendidikannya pula..  Kita bangun kembali para cendekiawan2 muslim, para ilmuwan2 muslim.. Kita tingkatkan semangat kita untuk menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu kita..  Jangan sampai umat islam mendapatkan predikat pemalas dan bodoh, karena bukan itu yang dicontohkan baginda Nabi Muhammad SAW kita tercinta kan?? 🙂

Islam memang mencangkup berbagai sendi kehidupan, dan karena itu pula, berbagai sendi kehidupan kita pun harus  terhiasi oleh indahnya islam,, begitupun di bidang kedokteran ini,, Cara pengobatan, pencegahan,perkembangan ilmu pengetahuan, manajemen rumah sakit,dll  harus bisa terwarnai oleh indahnya islam.

Karena untuk itulah kita menjadi seorang dokter, untuk menggerakan roda dakwah, untuk membantu agama Allah melalui dunia Kedokteran..  not be a Doctor Muslim but be a Muslim Doctor.. J kita bukan menjadi dokter yang kebetulan muslim, tapi menjadi Muslim yang kebetulan mendapat amanah menjadi Khalifah fil Ard melalui dunia kedokteran..

Semangat untuk para pejuang muslim^^,, Ayo kita raih kembali masa kejayaan islam,, bismillah 🙂

di rangkum dari tausiyah ustadz Anis matta,, semoga bermanfaat..

Kesiapan yang harus diperhatikan:

  1. Kesiapan pemikiran
  2. Kesiapan Psikologis
  3. Kesiapan Fisik
  4. Kesiapan Finansial

1. Kesiapan Finansial

–         Udah punya pemikiran jelas tentang identitas ideologinya. Harus menyadari bahwa dirinya muslim dan harus menyadari mengapa dia jadi muslim. Membangun afiliasi kita terhadap islam. Komitmen emosi yg kuat bukan hanya cultural.  Berpengaruh pada pendidikan anak juga kalo kita ga punya pemahaman islam yang baik.

–         Harus punya konsep diri yang jelas. Untuk bisa memahami orang lain,harus bisa  memahami diri sendiri.

–         Kita bukan mencari pasangan yang ideal, tapi pasangan yang tepat. Cari yang tepat dengan bingkai kepribadian kita. Bukan suami atau istri unggul mengharapkan istri atau suami unggul tapi yang tepat.

–         Harus bisa menerima apa adanya, harus tau visi masing2 dari awal..  dan bersedia untuk menerima itu.

–         Harus tau ilmu ttg pernikahan : hak suami istri, pengetahuan ttg masalah pendidikan, masalah kesehatan, dan masalah2 seksual.

2. Kesiapan psikologis

    –         Kepribadian yang matang berarti bisa mentransfer visinya menjadi karakter.

    –         Kesiapan psikologis menghadapi tantangan terbesar dalam hidup, yaitu tanggung jawab dan kemandirian. Karena bagi suami akan ada orang2 yang berlindung di balik anda.

    –          Akan berkurang waktu2 pribadi kita. Jadi harus mau menerima jika privasinya akan berkurang juga.

    –         Keseimbangan  antara ambivalensi emosi dalam diri kita. Ambivalensi rasa takut dan berani, ambivalensi antara harapan dan kesiapan, dll..

    –         Ketika nikah fluktuasi emosi akan sangat cepat. Jadi harus bisa lebih cepat dan tanggap dalam menghadapi itu, dan harus tetap mampu berfikir jernih dalam kondisi apapun.

    –         Istri harus bisa seperti sekretaris, pramugari, dan receptionist, yang harus mampu senantiasa ramah dan tersenyum walaupun selelah apapun.

    –         Pernikahan antara 2 orang berarti pernikahan antar 2 keluarga, jadi harus bisa nerima keluarga pasangan kita..  Harus berusaha jauh lebih akrab dengan keluarga istri daripada dengan istri dan sebaliknya.

    3. Kesiapan fisik

      –         Hubungan seksual di saat fisik blm matang akan menyebatkan banyak hambatan2 fisik. Lebih baik selalu check kesehatan sebelum pernikahan. Karena apapun itu bisa mempengaruhi anak-anak…

      –         Fisik walaupun nggak begitu menarik tapi enak di pandang.

      –         Perhatikan bau ketiak dan bau mulut.

      –         Laki-laki secara naluri butuh perempuan yang feminism,dan perempuan secara naluri mengharap laki2 yang maskulin. Perbedaan itulah yang memenuhi masing2 keterbutuhan, perbedaan daya tarik gender.

      –         laki-laki harus rajin olahraga fisik. Karena nantinya ia akan melindungi seorang istri dan anak2.

      4. Kesiapan Finansial

        –         Nggak harus punya segalanya saat menikah, yang penting saat waktunya tiba tau cara mengatasinya.

        –         Ketika menikah harus berfikir juga, dengan apa kehidupan akan di jalankan. Nggak harus mewah, yang penting bisa memenuhi kebutuhan hidup dasar.

        –         Bukan berarti matrealistik, tapi meyakinkan diri bahwa tidak menikah dengan laki2 yang melankolik..  yaitu yg rajin bilang I Love you tapi ga bisa beli susu buat anak2.

        –         Unsur romantika itu sangat penting ada, tapi harus di bangun di atas sikap realistis.

        Nb:

        Ketika kita merasa udah sangat mempersiapkan semuanya, akan ada saja kejadian2 yang di luar dugaan kita.. mungkin akan banyak penyimpangan2.. jadi kita harus berusaha untuk bisa menerima apapun yang akan terjadi nantinya.. Pendidikan atas diri sendiri harus berlangsung sampai mati. Harus ada persiapan psikologis untuk menerima hal2 yang tak terduga..

        Assalamualaikum wrwb…

        Ahlan wa Sahlan ya Akhi, ya ukhti... semoga bisa bermanfaat untuk semuanya^^

        demi masa

        Agustus 2018
        S S R K J S M
        « Jan    
         12345
        6789101112
        13141516171819
        20212223242526
        2728293031  

        Nutrisi Jiwa

        Allah tak pernah menjanjikan hari-hari kita berlalu tanpa sakit,berhias tawa tanpa kesedihan,senang tanpa kesulitan.. Tetapi Allah menjanjikan kekuatan kepada kita,untuk dapat melewatnya, selama kita ber-husnuzan kepadaNya..

        Status

        berusaha sabar dan ikhlas^^..
        Iklan